IDULFITRI: Makna Personal dan Sosial
-Orang yang ber-Lebaran belum tentu orang yang ber-Idulfitri. Sebab Idulfitri berarti kembali pada kesucian, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. -INSTAGRAM-
Dengan demikian, esensi Idulfitri, bukan pada atribut zahir yang serbabaru, namun peningkatan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
Zakat Fitrah sebagai Penentu Diterima Amal Ramadan
Ilustrasi zakat fitrah. Kekurangan-kekurangan selama menjalankan ibadah Puasa sebulan penuh kemudian ditutup dengan menunaikan zakat fitrah. -satudikti.id --
Sebagai manusia yang memang tidak lepas dari khilaf dan salah, bisa jadi di sana-sini masih saja ada kekurangan-kekurangan dalam kita menunaikan ibadah puasa Ramadan. Walaupun kita telah berusaha menjaga mulut kita agar senantiasa mengatakan yang baik-baik, kita telah menjaga mata kita untuk senantiasa melihat yang baik-baik, kita telah menjaga telinga kita untuk mendengarkan yang baik-baik, kita telah menjaga tangan kita untuk melakukan yang baik-baik, bisa jadi upaya kita masih belum sempurna. Kekurangan-kekurangan itu kemudian kita tutup dengan menunaikan zakat fitrah.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda, “Rasullah telah memfardukan zakat fitrah untuk menjadi pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari segala tingkah laku yang sia-sia dan perkataan yang kurang baik yang mereka lakukan selama puasa, dan untuk menjadi hidangan bagi orang-orang yang miskin”.
Bahkan di bagian lain, Ibnu Syahin meriwayatkan sebuah hadis Rasullah saw yang menyatakan bahwa zakat fitrah merupakan pembuka atas diterimanya ibadah puasa kita. “Bulan Ramadan tergantung di antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat ke hadapan Allah, kecuali dengan zakat fitrah”.
Allah Swt dalam Surat Al A’la ayat 14-15 juga berfirman, “Sesungguhnya telah mencapai kemenangan orang-orang yang mengeluarkan zakat fitrahnya, dan menyebut nama Tuhannya (yaitu membaca kalimat takbir dan tahmid), kemudian mengerjakan salat (yaitu Salat Idulfitri)”.
Dengan demikian, dengan kemenangan kita dalam menunaikan ibadah puasa Ramadan yang disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunnah, membayar zakat fitrah dan melantunkan kalimat kalimat takbir, tahlil, dan tahmid tersebut, dan kita akhiri dengan salat Idulfitri.
BACA JUGA:26 Ribu Kendaraan Menyeberang ke Sumatera, Puncak Mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Merak
Semoga Allah Swt mengampuni segala dosa-dosa kita yang telah lalu dan mengembalikan kita suci tanpa dosa, dan itu berarti kita benar-benar ber-Idulfitri.
Idul Fitri dan Tradisi Halal Bihalal
Ilustrasi halal bihalal usai Salat Idulfitri. Umat Islam saling memberi maaf. Mereka terbebas dari dosa personal kepada Allah Swt dan dosa sosial kepada sesama manusia. -antara--
Setelah kita mendapatkan ampunan dari Allah Swt atas segala dosa-dosa kita, belumlah berarti kita sudah benar-benar terbebas dari dosa. Sebab, di samping kita berhubungan dengan Allah Swt sebagai Sang Khaliq, kita juga berhubungan dengan sesama manusia sebagai makhluk. Sudah barang tentu dalam berinteraksi dengan sesama manusia itu, kadang-kadang kita melakukan kekhilafan dan kesalahan. Kita pasti punya salah pada kedua orang tua kita, kita mungkin punya salah pada saudara-saudara, tetangga-tetangga dan teman-teman kita.
Oleh karena itu, betapa indahnya bila pada momen Idulfitri ini kita juga saling meminta dan memberi maaf satu sama lain. Kita meminta maaf kepada orang tua kita, kepada saudara kita, kepada tetangga kita, dan kepada teman kita. Kegiatan ini kita kenal dengan istilah halal bihalal, yaitu tradisi saling memaafkan dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
BACA JUGA:Lulusan Gontor Raih IPK 3,98, Zahiroh Nafiisah Jadi Wisudawan Terbaik Ketiga Unisma Malang
Tradisi ini sangat penting karena dapat memperkuat tali silaturahmi dan mempererat hubungan antar umat Islam. Dalam tradisi halal bihalal, umat Islam saling mengunjungi dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Sumber:
