IDULFITRI: Makna Personal dan Sosial
-Orang yang ber-Lebaran belum tentu orang yang ber-Idulfitri. Sebab Idulfitri berarti kembali pada kesucian, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. -INSTAGRAM-
Bahkan, dalam rangka efisiensi waktu dan tanpa mengurangi makna untuk saling memaafkan, kegiatan halal bihalal kemudian diformat dalam bentuk sebuah pertemuan besar dan semua yang hadir saling meminta dan memberi maaf.
Dengan begitu, kita akan benar-benar menjadi orang yang terbebas dari dosa-dosa baik dosa personal kepada Allah Swt maupun dosa sosial kepada sesama manusia.

Halal bihalal via media sosial kian marak pada era revolusi industri 4.0. Namun demikian, kita perlu bijak dalam memanfaatkan teknologi agar nilai-nilai kebersamaan dan kehangatan tetap terjaga. -LINES--
Kemajuan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini berimplikasi serius terhadap upaya menjalin silaturrahim dan bermaaf-maafan dalam momen Idulfitri. Sering bermaaf-maafannya tidak lagi dilaksanakan melalui pertemuan fisik, namun menggunakan berbagai platform digital seperti panggilan video, pesan instan, WhatsApp, TikTok, maupun media sosial lain.
Teknologi memang memungkinkan orang-orang yang terpisah jarak untuk tetap merasakan kebersamaan di hari yang penuh bahagia ini. Namun demikian, kita perlu bijak dalam memanfaatkan teknologi agar nilai-nilai kebersamaan dan kehangatan tetap terjaga.
BACA JUGA:Santunan Ramadan, Unisma Bantu 250 Warga Duafa di Empat Kelurahan
Alhasil, Idul Fitri akan benar-benar memiliki makna personal, yaitu meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, dan sekaligus makna sosial, yaitu mempererat tali silaturrahim umat Islam.
Selamat Idul Fitri 1447 H. Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
*) Penulis adalah rektor Universitas Islam Malang
Sumber:
