Ramadan, Dunia, dan Kesadaran Bawah Sadar
Ramadan adalah momentum eksistensial, sebuah jeda kosmis yang memaksa manusia berhenti, menahan, dan menimbang kembali arah hidupnya. -ilustrasi pinterest--
SETIAP tahun Ramadan datang dengan cara yang sama, tetapi selalu mengetuk lapisan batin yang berbeda. Ia hadir bukan sekadar sebagai peristiwa kalender keagamaan, namun momentum eksistensial: sebuah jeda kosmis yang memaksa manusia berhenti, menahan, dan menimbang kembali arah hidupnya.
Di tengah dunia yang semakin riuh, Ramadan adalah keheningan yang disengaja.
Al-Qur’an, kitab yang menjadi jantung Ramadhan, memberi kita peta refleksi yang sangat tajam. Salah satu ayat yang terasa begitu relevan dalam lanskap kehidupan modern adalah firman Allah:
وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Dan ia lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nazi’at)

Dunia dalam perspektif tafsir klasik sering dimaknai sebagai keterikatan pada syahwat. -ilustrasi limawaktu --
Dalam Tafsir Jalalain, ayat ini dijelaskan dengan gaya khasnya yang ringkas namun mengena:
(وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا) بِاتِّبَاعِ الشَّهَوَات
“Mengutamakan kehidupan dunia, yakni dengan mengikuti syahwat.”
Ringkas, padat, nyaris tanpa ornamen. Namun justru di situlah kekuatannya. Dunia, dalam perspektif tafsir klasik, sering dimaknai sebagai keterikatan pada syahwat: dorongan instingtif yang jika tidak dikelola akan menyeret manusia pada orientasi yang sempit dan rapuh.
Tetapi tradisi keilmuan Islam tidak berhenti pada ringkasan. Para ulama hasyiyah memperluas cakrawala makna. Dalam salah satu ilustrasi hasyiyah kontemporer disebutkan:
“Makna ‘mengutamakan kehidupan dunia’ adalah memilihnya dengan mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”
Di sinilah kedalaman refleksi itu terasa begitu modern. Dunia ternyata bukan sekadar persoalan materi. Dunia adalah cara berpikir. Dunia adalah cara memandang waktu. Dunia adalah sikap batin terhadap kehidupan.
Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag, penulis. -dok. pribadi---
Sumber:
