Ramadan, Dunia, dan Kesadaran Bawah Sadar
Ramadan adalah momentum eksistensial, sebuah jeda kosmis yang memaksa manusia berhenti, menahan, dan menimbang kembali arah hidupnya. -ilustrasi pinterest--
“Maka sungguh, Jahim-lah tempat tinggalnya.”
Namun, penting dipahami: bahasa Al-Qur’an bukan sekadar ancaman, tetapi cermin. Ia menunjukkan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi ontologis. Kehidupan yang sepenuhnya dikuasai nafsu dan ilusi waktu akan berujung pada kegelisahan, kehampaan, dan keterasingan —bahkan sebelum berbicara tentang dimensi eskatologis.

Bahasa Al-Qur’an bukan sekadar ancaman, tetapi cermin. Ia menunjukkan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi ontologis. -ist--
Neraka, dalam makna terdalam, juga bisa dipahami sebagai kondisi batin yang terbakar oleh ketidakpuasan tanpa akhir.
Sebaliknya, Ramadan membuka kemungkinan lain.
Ia mengajarkan keseimbangan. Islam tidak menolak dunia, tetapi menolak dominasi dunia. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak didewakan. Harta tetap dicari, tetapi tidak menjadi tuhan baru. Ambisi tetap dirawat, tetapi tidak menghapus nurani.
Ramadan adalah pelatihan untuk hidup yang lebih proporsional.
Pada akhirnya, pertanyaan Ramadan selalu sederhana, tetapi radikal:
Masihkah kita mengira waktu selalu tersedia?
Masihkah kita menunda hal-hal paling penting?
Masihkah kita hidup seolah-olah dunia adalah tujuan akhir?
Ramadan tidak datang untuk mengubah kalender. Ia datang untuk mengguncang kesadaran.
Ia adalah undangan untuk memendekkan angan-angan, menata nafsu, dan merapikan kembali arah hidup. Sebab yang paling sering membuat manusia tersesat bukanlah kejahatan besar, melainkan kelalaian kecil yang terus-menerus diulang.
Dan kelalaian paling halus itu bernama: “Nanti saja.”
* Penulis adalah Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Sumber:
