1 tahun disway

Indonesia Siap-Siap, Ini Daftar Negara Umumkan Darurat Energi Imbas Perang Iran-AS

Indonesia Siap-Siap, Ini Daftar Negara Umumkan Darurat Energi Imbas Perang Iran-AS

Serangan baru mengguncang Iran dan Lebanon pada 6 Maret, ketika Israel bersumpah untuk meningkatkan eskalasi ke fase baru dalam perang Timur Tengah yang telah meningkat pesat di seluruh wilayah dan sekitarnya.-Ibrahim Amro-AFP Forum--

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Kebijakan darurat energi dilakukan beberapa negara menyikapi dampak yang ditimbulkan akibat perang Iran vs Amerika-Israel. Ini terjadi akibat terganggunya pasokan minyak dan bahan bakar di dunia. Adapun negara yanng menetapkan status darurat energi yakni Filipina, Bangladesh, dan Korea Selatan.

Filipina mengambil langkah cepat memberlakukan darurat energi nasional oleh Presiden Ferdinand Marcos pada Selasa, 24 Maret 2026.

"Keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumkan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta bahaya yang ditimbulkannya terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara," bunyi perintah eksekutif, dikutip AFP, Kamis, 26 Maret 2026.

BACA JUGA:Filipina Umumkan Darurat Energi Akibat Perang Iran, Kini Andalkan Batu Bara untuk Stabilkan Listrik

Filipina diketahui telah menyiapkan dana darurat 20 miliar peso (sekitar Rp5,61 triliun) untuk membeli hingga 2 juta barrel bahan bakar, termasuk produk minyak olahan dan liquefied petroleum gas (LPG).

Darurat energi nasional ini akan berlaku selama satu tahun kecuali diperpanjang atau dicabut oleh Presiden Ferdinand Marcos.

Sementara itu, Bangladesh menghadapi tekanan yang berbeda, di mana krisis bahan bakar memicu antrean panjang dan kekacauan di berbagai wilayah. Pasokan energi yang dimiliki negara tersebut dinilai tidak mampu mengejar lonjakan permintaan.

BACA JUGA:Tengah Dikaji! Rencana Pemerintah Mulai April 2026: ASN WFA, Sekolah Kembali Daring

Sedangkan Korea Selatan mulai meningkatkan perencanaan darurat untuk skenario terburuk di Timur Tengah. Perdana Menteri Kim Min Seok mempertimbangkan pemerintah perlu memperkuat sistem respons preventifnya karena konfil Iran vs AS-Israel.

Hal serupa juga disampaikan Presiden Lee Jae Myung, ia menilai konflik di Timur Tengah ini memicu ketidakpastian pasokan dan permintaan minyak serta gas. Pemerintah Korea Selatan ini tengah menyiapkan langkah konkret menekan dampak konflik dengan fokus pada pengumuman lanjutan terkait batas harga maksimum minyak.

BACA JUGA:Donald Trump Siap Akhiri Perang Iran, Klaim Telah Berdialog dengan Teheran

Sedangkan Indonesia, pemerintah tengah membahas kebijakan penerapan WFH (work from home). Kebijakan ini diambil pemerintah sebagai salah satu solusi untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah kondisi energi global yang tidak stabil.

Adapun, langkah ini dinilai mampu untuk mengurangi mobilitas harian tanpa perlu menghentikan aktivitas kerja sepenuhnya.

Sumber: disway