Pentingnya 'Well Dressed' Saat Bekerja, Antara Tanggungjawab dan Performa
Contoh Professional Office Look-pinterest-
4. Pakaian Membangun Kredibilitas di Mata Rekan Kerja
Pakaian yang konsisten mencerminkan kepribadian. Di kantor, ini membentuk persepsi orang lain soal kedisiplinan dan kemampuan profesional. Apalagi dalam dunia kerja yang menilai bukan cuma hasil, tapi cara menyampaikan diri.
Seorang karyawan yang selalu tampil clean look—misalnya selalu mengenakan pakaian berwarna earth tone dan sepatu bersih—akan lebih diingat. Gaya seperti ini memberi kesan rapi, dewasa, dan dapat dipercaya. Tanpa harus jadi paling modis, tapi yang paling konsisten.
Triknya? Tentukan “signature look” pribadi: apakah lebih suka potongan straight, warna netral, atau selalu pakai jam tangan klasik. Gaya khas ini memudahkan orang lain mengenali dan membangun citra profesional yang stabil.
5. Bumi Butuh Profesional yang Gak Boros Belanja
Mengutip laporan Ellen MacArthur Foundation, industri fashion menyumbang 10% emisi karbon global. Artinya, semakin sering membeli dan membuang pakaian, semakin tinggi jejak karbon yang ditinggalkan. Maka, membangun wardrobe kerja yang efisien juga bentuk tanggung jawab lingkungan.
Salah satu caranya: gunakan prinsip capsule wardrobe. Pilih pakaian berkualitas yang bisa dipakai berulang dalam berbagai situasi. Misalnya blazer bahan linen yang adem dan cocok dipakai baik saat meeting maupun hangout setelah kerja.
Selain itu, pilih brand yang punya sertifikasi sustainability, atau beli dari thrift shop berkualitas. Selain hemat, gaya kerja tetap jalan, dan bumi juga tersenyum.
6. Dress Well Tapi Kontekstual, Bukan Maksa
Dress code tiap kantor bisa beda-beda. Kantor hukum pasti berbeda dengan agensi kreatif. Yang penting bukan seberapa formal, tapi seberapa sesuai. Jadi, yang disebut rapi itu bukan selalu jas dan dasi—tapi berpakaian sesuai norma di tempat kerja.
Misalnya, di kantor start-up, cukup tampil dengan kemeja lengan pendek, celana chino, dan sneakers bersih. Tapi kalau kerja di bank atau instansi pemerintahan, pakai batik lengan panjang atau blazer lebih tepat. Semua tergantung konteks.
Gunakan observasi 1 minggu pertama saat baru bekerja. Lihat pola pakaian senior dan atasan, lalu sesuaikan. Tidak harus meniru, tapi tahu batas yang pantas. Rapi bukan tentang mahal, tapi soal menghargai tempat kerja.
7. Outfit Menentukan Gestur Dalam Bekerja
Misalnya, saat pitching ide ke klien. Mengenakan outer blazer dan sepatu formal bisa bikin gestur tubuh lebih tegap, cara bicara lebih stabil, dan pandangan mata lebih yakin. Hal ini ikut membentuk persepsi klien terhadap kualitas kerja.
Setiap orang bisa punya outfit "jimat"—pakaian yang selalu bikin merasa percaya diri. Entah itu atasan berpotongan pas badan, sepatu kesayangan, atau aksesori yang bikin nyaman. Kenali dan manfaatkan di saat-saat penting.
Sumber: frontiers in psychology
