“Rakyat tak paham diplomasi. Mereka hanya tahu mengungsi. Sementara para pemimpin berunding dengan ‘boneka’ Belanda, bukan pemerintah Belanda,” tulis Tan, dikutip Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia jilid III.
9. Warisan: Perlawanan dan Keteguhan
Tan Malaka mungkin sudah wafat. Tapi warisannya tetap hidup: pemikiran kritis, semangat melawan penindasan, dan keberanian berpikir berbeda.
Ia adalah simbol bahwa sejarah bukan garis lurus. Bahwa kemerdekaan tak hanya dibangun dari podium proklamasi, tapi juga dari pelarian, penjara, pengasingan, bahkan peluru penghabisan.BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Malang Raya Per 2 Juni, Prediksi Dominasi Mendung Tebal
Tan Malaka adalah pahlawan dengan luka panjang. Ia terlalu kiri untuk kanan, terlalu nasionalis untuk komunis. Tapi satu hal pasti: Indonesia berutang banyak pada lelaki dari Minangkabau ini.
Ia bukan hanya pejuang kemerdekaan. Ia adalah pengingat bahwa sejarah bukan milik pemenang, melainkan milik mereka yang berani bertahan, bahkan dalam sunyi.
Terbentur, terbentur, terbentuk.
Dari banyaknya benturan di sejarah Indonesia, terbentuklah tanah yang kita injak sekarang.