2 Juni Memperingati Hari Lahir Tan Malaka, Sang Revolusioner Yang Sempat Ditelan Kabut Sejarah

Senin 02-06-2025,06:29 WIB
Reporter : Immanuela Regina
Editor : Immanuela Regina

Ia membentuk koalisi besar bernama Persatuan Perjuangan pada 1946 sebagai bentuk oposisi terhadap pemerintah. Gagasannya jelas: tak boleh ada kompromi dengan Belanda. Tapi koalisi ini retak sebelum sempat berkuasa. Sjahrir kembali jadi Perdana Menteri, dan Tan Malaka ditangkap tanpa pengadilan selama dua tahun.

4. Jalan Sunyi Sang Proletar

Setelah bebas, Tan mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) bersama dengan Chaerul Saleh dan Adam Malik pada 1948 dengan ideologi utama mengenai perwakilan kaum proletar. Tapi kondisi Indonesia sedang panas. Belanda kembali menyerang. Soekarno dan Hatta ditawan. Banyak pimpinan komunis terbunuh.

Tan mencoba memimpin dari kota Kediri. Ia mendeklarasikan diri sebagai pemimpin republik. Tapi ketika Belanda menyerang lagi, ia melarikan diri ke lereng Gunung Wilis.

Di sanalah, pada 21 Februari 1949, ia ditembak mati oleh pasukan TNI sendiri. Perintahnya datang dari Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Sebuah kematian yang tragis, bahkan ironis.

5. Yang Terhapus dari Buku Pelajaran

Presiden Soekarno sempat mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres No. 53/1963. Tapi di era Orde Baru, namanya perlahan-lahan menghilang dari buku pelajaran. Stigma komunis begitu kuat menempel padanya, meski pandangan politiknya justru sering berbeda dengan PKI.

Tan menjadi tokoh yang membingungkan: dianggap komunis oleh kaum nasionalis dan agamis, tapi dianggap pengkhianat oleh para komunis.

6. Bukan Hanya Sekedar "Kiri"

Sejarawan Belanda, Harry A. Poeze, menulis biografi lengkap Tan Malaka. Dalam diskusi bukunya di UGM, ia menegaskan: ia menulis secara objektif, tak sekadar “kiri”.

“Banyak fakta sejarah tentang Tan Malaka yang harus diklarifikasi ulang,” kata Poeze.

7. Inspirasi Bung Karno

Bung Karno sendiri mengakui bahwa ia terinspirasi oleh pemikiran Tan Malaka. Salah satunya lewat buku Naar de Republiek—naskah kecil namun penting yang ditulis Tan semasa di Belanda. Buku itu memuat konsep negara Indonesia jauh sebelum proklamasi dikumandangkan.

Meski sosoknya penuh kontroversi, Bung Karno tetap menetapkan Tan sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah keputusan politik yang tak bisa dibatalkan.

8. Guru Bangsa yang Mengabdi dengan Sepatu Lusuh

Tan Malaka tak pernah hidup mewah. Dalam salah satu kutipannya, ia menyindir pemimpin yang berdasi, bersepatu mahal, tapi tak dekat dengan rakyat.

Kategori :