Sektor pemerintahan juga bisa memakai CBA untuk proyek pembangunan, regulasi, dan kebijakan publik. Tujuannya bukan hanya efisiensi ekonomi, tapi juga memastikan dana publik digunakan secara optimal.
Sebagai contoh, proyek jalan tol baru harus melalui CBA untuk menimbang biaya pembangunan, dampak lingkungan, hingga proyeksi manfaat bagi mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi lokal.
10. Kapan CBA Tidak Cukup?
Walau berguna, CBA bukan alat mutlak. Dalam situasi darurat atau proyek inovatif yang belum ada pembandingnya, analisis ini bisa terlalu kaku. Selain itu, keputusan yang bersifat etis atau sosial kadang memerlukan pertimbangan di luar angka.
Itulah sebabnya, banyak pemimpin organisasi harus menjadikan CBA sebagai salah satu alat bantu, bukan satu-satunya penentu. Perlu pertimbangan nilai, misi organisasi, dan intuisi bisnis untuk membuat keputusan besar.
Angka Bisa Menuntun, Tapi Tak Selalu Menentukan!
Cost-Benefit Analysis memang bukan alat baru, tapi semakin relevan di era kerja modern yang penuh ketidakpastian. Ia membantu menyusun pertimbangan rasional sebelum melangkah lebih jauh. Tapi seperti alat lain, CBA juga punya batas.
Maka, keputusan akhir tetap memerlukan keberanian, nilai, dan visi—bukan hanya kalkulasi di atas kertas.
Kalau semua dihitung tapi tak ada yang berani memutuskan, bisnis bisa jalan di tempat. Maka, pakai CBA sebagai panduan, bukan pengganti akal sehat.