Belajar dari Kartini berarti menghargai proses kolektif. Mau bikin gerakan pendidikan? Ajak teman dari latar belakang lain. Mau bikin komunitas sosial? Libatkan orang yang berbeda pandangan. Perbedaan tidak untuk dihindari, tapi dijembatani.
8. Berpikir Global, Bertindak Lokal
Kartini banyak membaca buku Eropa. Ia berdiskusi dengan sahabat-sahabat Belanda. Tapi ia tidak meniru mentah-mentah. Ia tahu bahwa gagasan besar harus disesuaikan dengan konteks lokal. Maka, sekolah yang ia dirikan tetap berbasis budaya Jawa dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Zaman sekarang, kita bisa belajar dari mana saja. Tapi kadang terlalu kagum dengan yang “barat”, lupa bahwa akar kita juga penting. Kampanye gender yang cocok di Amerika belum tentu pas diterapkan begitu saja di pelosok Nusantara.
Menjadi Kartini berarti mampu menyaring. Ambil yang baik dari luar, padukan dengan kearifan lokal. Bukan soal menolak modernitas, tapi tentang menyelaraskan visi global dengan kenyataan di lapangan. Supaya perubahan bukan sekadar tren, tapi solusi.
9. Melawan Ketidakadilan Tanpa Harus Jadi Heroik
Kartini tidak selalu kuat. Ia juga pernah lelah, ragu, dan kecewa. Tapi ia tetap menulis. Tetap berjuang, meski dalam diam. Ia tidak mengejar popularitas. Tapi karena ketulusannya, namanya justru abadi.
Hari ini, banyak orang takut bicara karena merasa bukan siapa-siapa. Padahal, menjadi agen perubahan tak harus viral atau dikenal luas. Cukup lakukan yang bisa dilakukan. Bantu satu orang. Ubah satu kebiasaan. Satu langkah pun berarti.
Kartini mengajarkan bahwa perlawanan tak selalu datang dengan megafon. Kadang, datang dari dalam hati. Dari kesadaran kecil, yang kalau dibiarkan tumbuh, bisa mengguncang dunia.
Hari ini, kita mengenang Kartini. Tapi jangan berhenti di ucapan manis atau unggahan kebaya. Sebab perjuangan Kartini belum selesai.
Maka, tugas kita bukan sekadar mengenang. Tapi meneruskan. Bukan dengan meniru persis langkahnya, tapi dengan semangat yang sama: bahwa setiap manusia layak belajar, layak tumbuh, dan layak dihormati.
Selamat Hari Kartini. Jadilah versi terbaik dari dirimu. Dan yang tak kalah penting, bantu orang lain jadi lebih baik juga. Itu cara paling sederhana—dan paling jujur—untuk menghormati beliau.