21 April, Hari Kartini! Melawan Ketidakadilan Lewat Pendidikan, Bagaimana Meneladani di Zaman Sekarang?

Senin 21-04-2025,07:13 WIB
Reporter : Immanuela Regina
Editor : Agung Pamujo

Meneladani Kartini bukan soal naik panggung atau bikin orasi. Bisa dimulai dengan membela teman yang dilecehkan, membantu tetangga yang tak bisa bayar sekolah, atau sekadar bersikap adil dalam komunitas kecil. Kritik sosial tidak harus heroik. Tapi harus konsisten.

4. Memberdayakan Diri, Bukan Menunggu Diberdayakan

Kartini tidak menunggu diberi panggung. Ia menciptakan panggungnya sendiri. Dalam ruang geraknya yang terbatas, ia mencari buku, belajar bahasa Belanda, dan berdialog dengan tokoh-tokoh luar negeri. Semua itu ia lakukan bukan karena diminta, tapi karena ia tahu bahwa dirinya layak tahu.

Di era sekarang, kesempatan belajar terbuka lebar. Ada ratusan kursus gratis, kelas daring, e-book, hingga podcast pendidikan. Tapi masih banyak yang menunggu diajak. Menunggu "diberi tahu", bukan "mencari tahu". Padahal, semangat Kartini adalah semangat eksplorasi. Rasa ingin tahu yang besar.

Memberdayakan diri berarti aktif. Bukan hanya jadi penonton kehidupan. Mau belajar teknologi? Ambil kelas. Mau menulis lebih baik? Latihan. Jangan tunggu disuruh. Jangan tunggu disadarkan. Karena perubahan besar, sering kali dimulai dari inisiatif kecil yang dilakukan sendiri.

5. Menyuarakan Isu Sosial dengan Cara Kreatif

Kartini adalah pencerita yang andal. Surat-suratnya bukan hanya keluh kesah, tapi narasi yang kuat. Ia pandai menyusun kata, menggugah empati, dan menyentuh nurani pembacanya. Ia tahu: kalau ingin mengubah pikiran orang, harus menyentuh perasaannya terlebih dahulu.

Kini kita punya banyak cara menyuarakan isu: lewat video pendek, desain, musik, hingga meme. Isu-isu penting seperti pendidikan, diskriminasi, hingga kesehatan mental bisa dikemas dengan cara yang menarik.

Menjadi Kartini masa kini artinya kreatif menyuarakan keresahan. Tak harus kaku atau terlalu serius. Justru ketika gagasan dibungkus dengan seni, pesan akan lebih mudah ditangkap. Kritik bisa jadi viral. Dan perubahan pun bisa dimulai dari tawa yang mengandung makna.

6. Tidak Menyerah pada Sistem yang Diskriminatif

Dipaksa menikah muda tak membuat Kartini patah semangat. Justru dari situ, ia mendirikan sekolah bagi perempuan. Ia tahu bahwa melawan sistem tidak selalu harus frontal. Terkadang, cara terbaik adalah menciptakan alternatif yang membuktikan bahwa perubahan mungkin.

Zaman sekarang, diskriminasi kadang tidak terlihat jelas. Tapi tetap ada. Dalam bentuk upah yang tak setara, stereotip gender di dunia kerja, hingga tekanan sosial terhadap perempuan yang memilih karier atau pendidikan tinggi. Sistem itu halus, tapi membatasi.

Kartini mengajarkan kita untuk tidak menyerah. Jika satu pintu tertutup, cari jendela. Kalau tidak ada jendela, gali terowongan. Melawan ketidakadilan bisa dilakukan dengan banyak cara—yang penting, jangan diam.

7. Mengedepankan Kolaborasi, Bukan Kompetisi Buta

Kartini tidak merasa paling tahu. Ia membuka diri terhadap dialog. Ia menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh Eropa, berdiskusi, dan saling belajar. Ia tahu bahwa perubahan bukan kerja satu orang. Tapi kerja bersama, lintas batas, dan lintas generasi.

Di zaman sekarang, kolaborasi makin penting. Terlalu banyak orang sibuk jadi bintang sendiri. Padahal, gagasan besar justru lahir dari pertemuan banyak kepala. Bukan dari adu pintar, tapi dari saling dengar.

Kategori :