1 tahun disway

Hari Kartini dan Kaitannya Dengan Perempuan, Apa Arti Merdeka Sesungguhnya Bagi Perempuan?

Hari Kartini dan Kaitannya Dengan Perempuan, Apa Arti Merdeka Sesungguhnya Bagi Perempuan?

Kemerdekaan Perempuan di Hari Kartini dan Kemerdekaan Memilih Terkait Pernikahan-pinterest-

MALANG, DISWAYMALANG.ID -- RA. Kartini pernah menulis, “Habis Gelap, Terbitlah Terang.” Kalimat itu, seiring zaman, tidak hanya bicara soal pendidikan perempuan, tapi juga tentang hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Hari ini, perempuan boleh sekolah tinggi, bekerja, dan menentukan siapa atau kapan ia menikah. Tapi benarkah masyarakat sudah siap untuk menghormati semua pilihan itu?

Kemerdekaan perempuan bukan soal bebas bertindak, tapi bebas memilih tanpa takut dikucilkan.

Karena perjuangan hari ini bukan lagi soal masuk sekolah, tapi soal masuk akal.

Bahwa setiap perempuan punya hak untuk mendefinisikan kebahagiaan dan keberhasilannya sendiri, bukan dari pernikahan, bukan dari jumlah anak yang dimiliki.

Dan di situlah kemerdekaan sejati bermula—ketika suara hati perempuan lebih keras daripada tekanan sosial.

1. Kartini dan Tekanan untuk Menikah Muda

Kartini hidup dalam sistem budaya Jawakuno yang kaku. Ia dijodohkan dan harus menikah pada usia 24 tahun—usia yang pada masa itu bahkan dianggap “terlambat”. Dalam surat-suratnya, ia berkali-kali mengungkapkan kegelisahan tentang kehendak hati vs kehendak keluarga. Kemerdekaan perempuan diuji saat ia harus memilih: tunduk atau tetap menyimpan nyala pikirannya.

Walaupun akhirnya Kartini menerima perjodohan itu, dia tidak berhenti menulis, membaca, dan mengajar. Bahkan dari dalam rumah dinas suaminya di Rembang, Kartini tetap memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. 

Kita tak sedang menghakimi budaya zaman dulu. Tapi kita bisa belajar dari ketegaran Kartini yang bahkan dalam sistem patriarkal ekstrem pun masih bisa bersuara. Kini, ketika perempuan sudah bisa memilih, mengapa masih ada yang menganggap menikah sebagai ‘kewajiban’? "kapan nikah?" masih saja dilontarkan saat kumpul keluarga, kumpul tetangga.

Kemerdekaan berarti membebaskan diri dari ‘harus’ yang tidak berasal dari diri sendiri.

2. Standar Sosial 

Coba lihat di media sosial. Saat seorang perempuan usia 30-an masih lajang, kolom komentarnya bisa penuh dengan “kode” nyinyir: kapan nyusul?, jodohnya mungkin lagi nyasar, atau terlalu milih kali ya. Karena hal ini, perempuan menjadi merasa lebih tertekan, sampai ada yang harus melakukan pernikahan dini. Data BPS menunjukkan angka pernikahan dini meningkat menjadi 15,6%.

Ini bukan sekadar stereotip. Bahwa pernikahan masih dianggap sebagai parameter utama kebahagiaan perempuan—bahkan lebih penting dari karier, pendidikan, atau pencapaian personalnya.

Sumber: bps