1 tahun disway

21 April, Hari Kartini! Melawan Ketidakadilan Lewat Pendidikan, Bagaimana Meneladani di Zaman Sekarang?

21 April, Hari Kartini! Melawan Ketidakadilan Lewat Pendidikan, Bagaimana Meneladani di Zaman Sekarang?

R.A Kartini dan Keteladanannya-pinterest-

MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Hari ini, (21/4), adalah pengingat: bahwa perempuan pernah dibatasi hanya di dapur, sumur, dan kasur. Tapi ada satu perempuan dari Jepara, yang berani melawan. Raden Ajeng Kartini menolak tunduk pada ketentuan sosial yang membungkam mimpi kaum perempuan. Ia menulis surat, memprotes sistem, dan membayangkan masa depan yang belum sempat ia jalani.

Kartini mungkin hidup di zaman kolonial, tapi gagasan-gagasannya tak pernah basi. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk menghancurkan tembok-tembok ketidakadilan. Bukan hanya bagi perempuan, tapi juga bagi semua manusia yang tertindas oleh sistem yang timpang.

Sekarang, kita hidup di dunia serba digital. Dunia di mana informasi mengalir lebih cepat daripada surat yang dulu dikirim Kartini. Tapi, apakah semangatnya masih hidup?

Mari kita telusuri—bukan hanya untuk mengenang, tapi untuk meneladani.

1. Pendidikan Bukan Sekadar Gelar, Tapi Kesadaran

Kartini tidak sekolah tinggi-tinggi. Ia juga tidak punya ijazah kuliah. Tapi dari balik tembok rumahnya, ia membuktikan bahwa pendidikan sejati tidak diukur dari sertifikat, melainkan dari keberanian berpikir dan keinginan untuk tahu lebih. Ia belajar diam-diam, membaca buku yang ia minta sendiri, dan menuliskan gagasannya dalam surat-surat yang kini jadi warisan abadi.

Di masa sekarang, kita terlalu sering mengaitkan pendidikan dengan gelar, dari S1 - S3. Semakin banyak huruf di belakang nama, semakin dianggap pintar. Padahal, pendidikan seharusnya membuka pikiran, bukan hanya membuka jalan ke kantor. Berapa banyak orang berpendidikan tinggi, tapi masih tak sadar akan ketidakadilan di sekitarnya?

Menjadi Kartini masa kini berarti menjadikan belajar sebagai proses yang tak selesai saat wisuda. Membaca berita, berdiskusi, bahkan mendengarkan cerita orang lain bisa jadi bentuk pendidikan yang bermakna. Bukan soal hafal teori, tapi soal peka terhadap realitas.

2. Melek Literasi Digital, Bukan Sekadar Viral

Kalau dulu Kartini menulis surat dan menunggu berbulan-bulan untuk dibalas, sekarang kita bisa menyampaikan pikiran dalam hitungan detik. Tapi sayangnya, ruang digital yang luas ini sering kali diisi oleh hal-hal yang dangkal. Hoaks, drama, prank, hingga konten yang memperbodoh diri sendiri—semua lebih cepat viral daripada ide kritis.

Kartini tak pernah punya Instagram atau TikTok. Tapi ia tahu kekuatan tulisan dan narasi. Ia tahu bahwa kata-kata bisa menggugah kesadaran, membangkitkan semangat, dan melawan ketidakadilan. Itulah sebabnya surat-suratnya begitu dalam dan menyentuh. Ia tahu, bahwa menulis adalah bentuk perlawanan.

Kita bisa mengikuti jejaknya. Buat konten yang menantang pola pikir lama. Gunakan media sosial untuk menyebar ide, bukan cuma editan wajah. Literasi digital bukan cuma bisa pakai HP atau bikin caption estetik. Tapi juga soal memilah mana yang membodohi, mana yang mencerahkan.

3. Mengkritisi Ketimpangan, Mulai dari Lingkungan Terdekat

Kartini tak tinggal diam melihat ketimpangan. Ia tahu perempuan bangsawan lebih punya akses daripada rakyat jelata. Ia juga sadar bahwa pendidikan hanya untuk mereka yang dianggap “layak”. Maka, ia bicara. Ia menulis. Ia menggugat. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan menunjukkan bahwa sistem itu salah.

Sumber: asia pulp & paper