REMBANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan umat Islam agar tidak mudah mengkafirkan sesama muslim hanya karena melakukan dosa besar.
Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan Rembang itu menjelaskan, seseorang yang melakukan kemaksiatan tetap memiliki status sebagai muslim. Perbuatan dosanya tidak otomatis menghapus identitas keislamannya.
Gus Baha mengaitkan penjelasan tersebut dengan firman Allah dalam Al-Qur'an: “Tsumma auratsnal kitabal ladzinashthafaina min ibadina, faminhum dzalimul linafsih,” katanya sebuah pengajian. Kajiannya dituliskan bersambung Disway Malang dan ini merupakan seri 1.
Artinya, kata Gus Baha, kemudian Kitab itu diwariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri.
"Nah, kalau Allah mengatakan, 'Orang-orang itu saya pilih,' kemudian sebagian dari mereka tetap zalim, berarti orang zalim itu tetap masuk dalam kelompok orang-orang pilihan Allah," jelas Gus Baha.
Menurut Wakil Rais Aam PBNU periode 2026–2031 tersebut, ayat itu menunjukkan bahwa perbuatan zalim tidak serta-merta menghapus status seseorang sebagai bagian dari umat Islam.
Allah yang Memiliki Alam Raya Berhak Memilih
Gus Baha kemudian mengajak jamaah memahami konsep kepemilikan Allah atas alam semesta.
"Alam raya ini milik Allah. Semua yang ada di alam raya ini milik Allah. Maka, dipilih atau tidak dipilih itu terserah yang punya atau terserah kita?"
Dalam konteks manusia sebagai makhluk, keputusan Allah tentu tidak harus mengikuti kriteria yang dibuat manusia.
Gus Baha memberikan perumpamaan sederhana tentang orang kaya yang membeli telepon seluler.
"Saya misalnya orang kaya, boleh tidak punya HP buruk? Boleh, kan? Terserah saya. Saya orang kaya, beli HP mahal, medium, dan paling buruk, boleh tidak? Boleh, wong saya yang punya," ujar Gus Baha membuat analogi.
Namun, manusia sering membuat standar sendiri tentang apa yang seharusnya dipilih dan dilakukan orang lain. "Nak wong sugih HP-ne kudu larang. Nak wong alim kudu bojone ayu. Sing kudu arani kudu ayu itu siapa?" Katanya.
Gus Baha menyebut pola pikir semacam itu sebagai bentuk kegemaran manusia mengatur sesuatu yang bukan menjadi kewenangannya. "Nah, kita ini sering berpikir mengatur Tuhan."
Kritik terhadap Cara Berpikir Khawarij