Pertama, masyarakat harus mengenali tanda-tanda alami tsunami. Gempa bumi kuat atau berlangsung lama di kawasan pesisir, air laut yang tiba-tiba surut atau naik tidak biasa, serta suara gemuruh dari arah laut merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Kedua, masyarakat harus mengetahui jalur evakuasi dan lokasi aman. Ketika merasakan gempa kuat di kawasan pantai, warga tidak boleh menunggu pengumuman resmi apabila terdapat indikasi tsunami. Segera menjauh dari pantai dan bergerak menuju dataran tinggi atau lokasi yang lebih jauh dari garis pantai.
Ketiga, setiap keluarga perlu memiliki rencana penyelamatan darurat. Termasuk menentukan titik berkumpul, menyiapkan kebutuhan darurat, serta memastikan anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan orang yang membutuhkan bantuan khusus dapat dievakuasi.
Keempat, latihan evakuasi harus menjadi bagian dari kegiatan masyarakat. Sekolah, desa, pengelola hotel, tempat wisata, dan komunitas pesisir perlu memahami prosedur penyelamatan.
UNDRR juga mendorong kampanye #GetToHighGround, yakni ajakan untuk mengenali jalur evakuasi dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi ketika tsunami mengancam.
Tsunami Aceh 2004, Bencana Paling Mematikan di Indonesia
Sejarah tsunami Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tragedi 26 Desember 2004 di Aceh.
Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 9,1 mengguncang dasar Samudra Hindia di sebelah barat laut Sumatra. Gempa tersebut memicu tsunami besar yang menerjang Aceh dan sejumlah negara di sekitar Samudra Hindia.
Gelombang tsunami menghancurkan permukiman, fasilitas umum, infrastruktur, serta kawasan pesisir. Aceh menjadi wilayah dengan dampak paling parah di Indonesia.
Data UNESCO-IOC mencatat sekitar 167.540 orang di Indonesia meninggal dunia atau dinyatakan hilang akibat bencana tersebut. Secara keseluruhan, korban meninggal di berbagai negara mencapai lebih dari 227.000 jiwa.
Tsunami 2004 juga memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak mengenal batas negara. Gelombangnya mencapai Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, hingga sejumlah kawasan di Afrika.
Tragedi tersebut kemudian mendorong penguatan kerja sama internasional dalam pengembangan sistem peringatan dini tsunami, termasuk pembentukan sistem peringatan dan mitigasi tsunami Samudra Hindia.
Bagi Indonesia, tsunami Aceh menjadi pelajaran besar bahwa wilayah kepulauan dengan banyak zona pertemuan lempeng tektonik membutuhkan sistem mitigasi yang kuat dan kesiapsiagaan masyarakat secara berkelanjutan.
Tsunami 1994 Pernah Menghantam Pantai Tamban Malang
Selain tragedi Aceh, Kabupaten Malang memiliki catatan penting dalam sejarah tsunami Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi pada 3 Juni 1994 di kawasan pesisir selatan Jawa Timur.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang kawasan Samudra Hindia di selatan Jawa Timur, dekat ujung timur Palung Jawa. Gempa tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir selatan Jawa Timur hingga sebagian wilayah barat daya Bali.
International Tsunami Information Center (ITIC), lembaga informasi tsunami yang bekerja sama dengan UNESCO dan NOAA, mencatat gelombang tsunami tiba di pantai terdekat sekitar 20–30 menit setelah gempa utama.
Salah satu kawasan yang terdampak adalah Pantai Tamban di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.