Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2026, Malang Selatan Pernah Diterjang Tsunami

Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2026, Malang Selatan Pernah Diterjang Tsunami

Pantai Tamban di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang yang indah. Tahun 1994, pantai ini pernah diterjang tsunami menyebakan 30 rumah rusak meski tak ada korban jiwa. -foto: traveloka--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - Peringatan Hari Kesadaran Tsunami Sedunia atau World Tsunami Awareness Day pada 5 November 2026 menjadi momentum penting untuk mengingat kembali sejarah bencana tsunami di Indonesia. Peringatan ini juga memiliki relevansi khusus bagi masyarakat pesisir selatan Kabupaten Malang yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.

Malang Selatan bukan sekadar wilayah yang memiliki potensi ancaman tsunami berdasarkan peta kebencanaan. Kawasan ini pernah mengalami terjangan gelombang tsunami pada 1994. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Pantai Tamban, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman tsunami di pesisir Malang bukan sekadar kemungkinan. Sejarah mencatat, gelombang laut akibat gempa bumi di selatan Jawa Timur pernah masuk jauh ke daratan dan menghancurkan puluhan rumah warga.

Peringatan internasional tahun ini mengusung tema "Be Tsunami Ready: Resilience Starts With You" atau Siap Menghadapi Tsunami: Ketangguhan Dimulai dari Diri Sendiri.

Tema tersebut menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi tsunami tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, badan penanggulangan bencana, maupun sistem peringatan dini. Setiap individu, keluarga, komunitas, pengelola wisata, hingga masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir memiliki tanggung jawab untuk memahami risiko dan mengetahui langkah penyelamatan.

Sejarah Hari Kesadaran Tsunami Sedunia

Hari Kesadaran Tsunami Sedunia ditetapkan melalui resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor A/RES/70/203 pada Desember 2015.

Penetapan tanggal 5 November merupakan gagasan Jepang, negara yang memiliki sejarah panjang menghadapi bencana tsunami. Jepang mendorong peningkatan kesadaran masyarakat internasional terhadap ancaman tsunami sekaligus pentingnya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi pengurangan risiko bencana.

Pemilihan tanggal tersebut juga berkaitan dengan kisah bersejarah Inamura-no-hi atau pembakaran tumpukan padi. Peristiwa itu terjadi pada 5 November 1854 di Jepang.

Saat gempa bumi mengguncang wilayah pesisir, seorang petani bernama Hamaguchi Goryo melihat tanda-tanda datangnya tsunami. Dia membakar tumpukan padi untuk memberikan peringatan kepada warga. Api tersebut membuat masyarakat segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi sehingga banyak nyawa terselamatkan.

Kisah itu kemudian menjadi simbol pentingnya mengenali tanda bahaya alam dan bertindak cepat sebelum tsunami mencapai daratan.

Sejak ditetapkan pada 2015, peringatan Hari Kesadaran Tsunami Sedunia menjadi agenda internasional yang melibatkan negara-negara, lembaga kebencanaan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat sipil.

Tujuannya membangun budaya sadar bencana, memperkuat sistem peringatan dini, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami.

Tema Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2026

UN Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) menetapkan tema 2026, "Be Tsunami Ready: Resilience Starts With You".

Tema ini merupakan kelanjutan dari kampanye kesiapsiagaan tsunami sebelumnya. Namun, pada 2026 penekanannya lebih diarahkan pada tindakan nyata individu dan komunitas.

Sumber:

Berita Terkait