Menariknya, kemunduran musim ini justru menjadi berkah tersendiri bagi Kota Batu. Berbeda dengan daerah lain yang masih berjibaku dengan krisis air bersih, Kota Batu hingga saat ini tidak memiliki satu desa pun yang kekurangan air bersih.
"Di Karhutla itu gandengannya dengan kekeringan. Di Batu tidak ada desa atau warga yang kekurangan air bersih. Tapi di tempat lain itu, hari ini pun masih berjibaku dengan suplai air bersih," jelasnya.
Untuk kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi, Suwoko memastikan BPBD Kota Batu dalam kondisi siap.
"Kita siapkan dengan kondisi yang cukup ya. Semua yang dibutuhkan Insyaallah kita siapkan. Termasuk kendaraannya. Kendaraan, peralatan. Kemudian sembako untuk kebutuhan dasarnya sudah siap," tegasnya.
BACA JUGA:Pengangguran Kota Batu Ditargetkan Turun Jadi 3,03 Persen, Disnaker Siapkan Rp1,1 M
12 Unit EWS Masih Berfungsi
Namun, ada satu catatan kritis yang ia ungkap terkait Early Warning System (EWS) atau sirine peringatan dini bencana. Saat ini, Kota Batu memiliki 12 unit EWS yang tersebar di titik-titik rawan. Seluruhnya dalam kondisi perawatan rutin dan masih berfungsi.
Hanya saja, Suwoko mengakui ada fenomena kelelahan informasi di tengah masyarakat. Karena sudah terlalu lama terpasang dan sering berbunyi saat uji coba, sebagian warga mulai mengabaikan bunyi sirine tersebut.
"EWS sudah, karena kita belum sempat menambah, karena dalam 12 unit itu dalam perawatan terus. 12 unit mungkin terlalu lama terpasang, mungkin ada sinyal masyarakat juga bisa abai karena itu bunyi apa itu dianggap abai saja, mudah-mudahan tidak ada kejadian," pungkasnya.