Mendengar jawaban Nabi Muhammad, kahin tersebut menyampaikan kabar yang menggembirakan. "Bergembiralah, wahai anak muda!"
Kahin itu kemudian menyampaikan bahwa Nabi Muhammad kelak akan menjadi pembawa panji kenabian. Sekaligus penutup para nabi. Ia juga menyebut bahwa Malaikat Jibril akan turun kepada beliau.
"Engkau adalah pembawa panji kenabian. Engkau menjadi penutup para nabi. Kelak, Malaikat Jibril akan turun kepadamu."
Bagi Gus Baha, bagian ini memperlihatkan bagaimana tanda-tanda kenabian Muhammad telah diketahui oleh sebagian orang sebelum beliau menerima wahyu.
Kahin dalam cerita tersebut bahkan menyebut kedatangan Malaikat Jibril. Padahal, peristiwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad baru terjadi ketika beliau telah dewasa.
Kahin sebelum dan sesudah Nabi diutus
Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan Rembang itu kemudian menggarisbawahi perbedaan kahin pada masa sebelum kenabian dengan praktik peramalan setelah Nabi Muhammad diutus.
"Awalnya kahin itu positif. Setelah Rasulullah diutus, akses berita dari langit ditutup. Sejak saat itu, kahin menjadi pembohong," ujar Gus Baha.
Penjelasan tersebut menjadi kunci untuk memahami konteks kisah Halimah. Kahin yang ditemui dalam cerita itu tidak bisa begitu saja disamakan dengan orang yang sekarang mengaku dapat meramal masa depan.
Gus Baha mengajak jemaah memahami kisah tersebut sesuai latar sejarahnya. Peristiwa itu bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang mengalami kejadian luar biasa. Namun juga tentang tanda-tanda kenabian yang dikenali sebelum datangnya wahyu.
Dari kisah Halimah dan kahin tersebut, pembahasan mengarah pada keistimewaan Nabi Muhammad sejak masa kecil. Beliau kelak menerima wahyu melalui Malaikat Jibril dan menjadi rasul terakhir.
Kisah itu sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kenabian Muhammad telah didahului sejumlah tanda. Namun, penjelasannya tetap perlu ditempatkan dalam konteks riwayat yang sedang dibahas. Bukan disamakan dengan klaim peramal pada masa sekarang. (bersambung)