Hari Limbah Elektronik Internasional, Potensi E-Waste Malang Capai 5.213 Ton

Rabu 14-10-2026,07:33 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

Laporan tersebut mencatat dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik pada 2022. Dari jumlah itu, hanya 22,3 persen atau sekitar 13,8 juta ton yang terdokumentasi dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dengan cara yang ramah lingkungan.

Laporan yang sama memperkirakan limbah elektronik dunia dapat meningkat menjadi 82 juta ton pada 2030 jika tren yang ada berlanjut. Pertumbuhan konsumsi perangkat, terbatasnya pilihan perbaikan, masa pakai yang pendek, serta sistem pengumpulan yang belum memadai menjadi sejumlah faktor pendorongnya.

E-waste juga menyimpan sumber daya yang bernilai. Pada 2022, diperkirakan terdapat sekitar 31 juta ton logam di dalam limbah elektronik global. Nilai logam yang terkandung dalam limbah tersebut diperkirakan mencapai USD 91 miliar, tetapi sebagian besar potensinya belum dapat dipulihkan melalui sistem daur ulang yang terdokumentasi.

Potensi Limbah Elektronik di Kota Malang

Penelitian tugas akhir di ITB mengenai potensi timbulan dan pengelolaan limbah elektronik rumah tangga di Kota Malang memperkirakan jumlahnya mencapai 5.213,56 ton pada 2021. Penelitian tersebut juga memproyeksikan timbulan sekitar 5.401,51 ton pada 2030 dan 10.666,31 ton pada 2050.

Angka proyeksi itu perlu dibaca sebagai hasil pemodelan penelitian, bukan catatan resmi volume limbah yang terkumpul pada tahun-tahun tersebut. Penelitian tersebut berfokus pada limbah elektronik rumah tangga dari sejumlah jenis perangkat, seperti telepon genggam, laptop, televisi, kipas angin, lemari es, printer, mesin cuci, kamera, komputer, dan pendingin ruangan.

Analisis material dalam penelitian itu mencatat 36,4 persen logam, 23,5 persen kaca, 21,8 persen plastik, 9,3 persen komponen elektronik, dan 0,1 persen baterai. Persentase tersebut merupakan hasil analisis material dalam penelitian, bukan komposisi pasti seluruh barang elektronik bekas yang diperdagangkan di Malang Raya.

Penelitian itu juga menemukan 98 persen responden bersedia memilah limbah elektronik yang dimiliki, sedangkan seluruh responden yang diteliti menyatakan bersedia membuang limbah elektronik melalui fasilitas yang tersedia. Temuan ini menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas pengumpulan berpotensi membantu masyarakat mengelola barang elektronik yang sudah tidak terpakai. Namun, hasil survei tersebut tidak otomatis mewakili seluruh penduduk Kota Malang.

UB Mulai Memilah Limbah Elektronik

Pengelolaan e-waste juga menjadi tantangan bagi perguruan tinggi yang menggunakan banyak komputer, printer, kabel, baterai, dan perangkat elektronik lainnya.

Di Universitas Brawijaya (UB), Fakultas Ilmu Komputer telah menjalankan pemilahan sampah yang mencakup kabel, pengisi daya, baterai bekas, dan komponen komputer rusak. Sejumlah material yang dapat didaur ulang disalurkan kepada mitra pengolahan.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB juga melakukan pemeriksaan inventaris elektronik setiap enam bulan. Perangkat seperti komputer dan printer yang rusak atau habis masa pakainya didata untuk ditarik dari unit kerja agar tidak terus menumpuk.

Pada September 2026, UB dilaporkan sedang menyusun blueprint pengelolaan limbah tingkat universitas, termasuk limbah elektronik, sebagai bagian dari agenda Smart Green Campus dan Zero Waste Management. Rencana tersebut masih perlu dibedakan dari praktik pemilahan yang telah dijalankan di tingkat fakultas.

Universitas Negeri Malang (UM) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga relevan dalam pembahasan kampus hijau dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Namun, data terverifikasi mengenai jumlah limbah elektronik yang dihasilkan kedua kampus maupun volume yang berhasil didaur ulang belum tersedia dalam penelusuran ini.

Limbah Elektronik Tak Boleh Dibuang Sembarangan

Limbah elektronik tidak cukup diperlakukan sebagai sampah biasa. Telepon genggam, komputer, kabel, baterai, pengisi daya, dan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan perlu dipilah karena sebagian dapat mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), sementara komponen lainnya masih memiliki nilai ekonomi untuk dimanfaatkan kembali.

Kategori :