Nilai yang diwariskan Bung Karno kemudian membentuk komitmen Guruh dalam menjalani kehidupannya. Ia mengatakan ingin mengabdikan diri kepada negara dan bangsa Indonesia.
Pengabdian itu dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk politik maupun seni dan budaya.
Kenangan Bersama Bung Karno di Luar Istana
Selain kehidupan di Istana Merdeka, Guruh juga menyimpan sejumlah kenangan ketika bepergian bersama Bung Karno.
Salah satu yang paling diingat adalah perjalanan ke Blitar untuk berziarah ke makam neneknya. Guruh juga pernah bepergian bersama keluarga ke sejumlah daerah, termasuk Solo, Yogyakarta, dan Bali.
Momen-momen tersebut menjadi bagian dari masa kecil Guruh sebelum keluarganya meninggalkan Istana Merdeka pada 1967.
Saat itu Guruh berusia sekitar 14 tahun. Ia telah cukup memahami perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan keluarganya.
Warisan Nilai Bung Karno
Bagi Guruh, warisan Bung Karno bukan sekadar nama besar atau sejarah kepresidenan. Nilai yang paling membekas justru bagaimana sang ayah memperlakukan sesama manusia dan mengajarkan pengabdian kepada bangsa.
Guruh kemudian membawa nilai tersebut dalam perjalanan hidupnya sebagai seniman, budayawan, koreografer, dan politikus.
Kecintaannya terhadap Indonesia juga tercermin melalui karya-karya seni dan budaya yang banyak mengangkat identitas Nusantara.
Bagi Guruh, pengabdian kepada Indonesia merupakan bagian dari komitmen hidupnya. Ia ingin meneruskan perjuangan yang menurutnya telah diteladankan Bung Karno melalui apa pun bidang yang dijalaninya.
Hubungan ayah dan anak itu akhirnya menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup Guruh.
Bung Karno meninggalkan bukan hanya kenangan seorang ayah bagi Guruh, tetapi juga teladan yang terus dibawanya hingga dewasa.(*)