Di balik seluruh guyonan tersebut, Gus Baha ingin menunjukkan pentingnya bekal tauhid.
Ia mengingatkan ayat: “Alā inna auliyā’allāhi lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yahzanun.” Orang-orang yang menjadi wali Allah tidak perlu takut dan tidak pula bersedih.
Kemudian: “Lahumul busyra fil-hayatid-dunya wa fil-akhirah.” Ada kabar gembira bagi mereka di dunia dan di akhirat.
Gus Baha menggunakan ayat tersebut untuk mengajak jamaah tidak hanya melihat alam kubur sebagai sesuatu yang menakutkan. Ada harapan bagi orang yang menjaga iman dan tauhid.
Ilmu Tauhid Harus Menjadi Keyakinan
Bagi Gus Baha, belajar tauhid bukan sekadar supaya seseorang mampu menjawab pertanyaan ketika mengaji. Ilmu tersebut harus menjadi keyakinan yang hidup.
Karena itu ia berulang kali menempatkan dirinya sebagai orang yang mengajar tauhid. “Saya ini pengajar tauhid.”
Dari kisah guru tauhid hingga cerita Umar bin Khattab, Gus Baha membawa jamaah pada pesan yang sama: ilmu tauhid harus menjadi bekal yang benar-benar tertanam.
Kisah guru tauhid dalam ceramahnya lebih tepat dipahami sebagai ilustrasi khas Gus Baha, sedangkan kisah Umar memiliki rujukan kitab yang disebut dalam penyampaian ceramah dan juga ditemukan dalam teks Nurudz Dzholam.
Pada akhirnya, Gus Baha mengajak jamaah tidak hanya takut menghadapi kematian. Yang lebih penting adalah mempersiapkan iman, ilmu dan tauhid agar kehidupan berakhir dalam keadaan husnul khatimah.(Bersambung)