Munkar-Nakir digambarkan datang dengan rupa yang sangat menakutkan. Ali yang menyaksikan dari kasyaf justru menunggu apakah Umar akan gentar.
Ternyata yang terjadi berbeda. Umar malah membentak: “Hai Munkar-Nakir, kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa?”
“Yang sopan!”
Gus Baha kemudian melanjutkan dialognya dengan gaya khas. Malaikat bertanya, “Memang kamu siapa?”
Umar menjawab: “Saya ini temannya kekasih Tuhanmu.”
“Ana sohibu habibillah.”
Gus Baha kemudian tertawa dan memberi komentar: “Yang diandalkan justru temannya, bukan dirinya.”
Dalam versi yang diceritakan Gus Baha, Munkar-Nakir kemudian meminta petunjuk kepada Allah. Allah memerintahkan agar mereka bersikap lebih sopan kepada Umar.
Rujukan Kitab Kisah Umar
Bagian ini penting karena kisah tersebut bukan sekadar cerita yang muncul dalam potongan ceramah tanpa rujukan.
Dalam salah satu pemberitaan ceramah Gus Baha, beliau disebut menyatakan kisah Sayyidina Ali melihat Umar di alam kubur berasal dari Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani.
Namun terdapat pula rujukan yang menunjukkan kisah tersebut terdapat dalam Nurudz Dzholam Syarh Mandzumah Aqidatil Awwam karya Syekh Nawawi al-Bantani, halaman 78. Teks yang ditemukan dalam kitab tersebut memang memuat kisah Sayyidina Ali menunggu di makam Umar dan mendengar percakapannya dengan dua malaikat.
Ada perbedaan detail antara teks yang tercatat dalam kitab dan versi yang disampaikan Gus Baha. Karena itu, kisah tersebut sebaiknya disebut sebagai riwayat yang dinukil dalam kitab dan disampaikan kembali oleh Gus Baha, bukan langsung diposisikan sebagai hadis sahih.
Gus Baha dan Guyonan tentang Munkar-Nakir
Gus Baha memang kerap menyampaikan pembahasan Munkar-Nakir dengan bahasa yang membuat jamaah tidak hanya takut, tetapi juga memahami sisi lain dari persoalan tersebut. “Munkar-Nakir itu suangar,” kata Gus Baha.
Ia menggambarkan kerasnya malaikat tersebut dengan membawa palu dan rupa yang menggentarkan. Tetapi setelah kisah Umar disampaikan, Gus Baha justru membawa jamaah kepada persoalan keteguhan iman.
Ia bahkan mengaitkannya dengan dirinya sendiri: “Saya ini ngajar tauhid terus.” “Saya ini pengajar tauhid.”
Kemudian muncul guyonan tentang nilai atau “biji” tauhid. “Biji saya sembilan.” Gus Baha melanjutkan dengan candaan bahwa tidak ada nilai sepuluh. “Kalau sepuluh terlalu sempurna.”