Perjalanan HMD kemudian memasuki tahap baru. Perusahaan mulai memperkenalkan perangkat dengan merek HMD sendiri, sementara sejumlah feature phone tetap menggunakan nama Nokia.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa HMD tidak hanya mengandalkan satu merek. Nokia tetap memiliki nilai historis, tetapi HMD juga membangun identitas produknya sendiri.
Sementara itu, Nokia Corporation terus menjalankan bisnis teknologi dan jaringan. Catatan resmi perusahaan menunjukkan bahwa bisnis Devices & Services telah dilepas pada 2014, sedangkan Nokia kemudian melakukan berbagai akuisisi dan divestasi di sektor teknologi jaringan dan infrastruktur.
Dengan demikian, kisah Nokia sebenarnya bukan cerita tentang sebuah perusahaan yang hilang begitu saja. Ada pemisahan antara Nokia sebagai perusahaan teknologi dan merek Nokia yang digunakan dalam industri ponsel oleh pemegang lisensi.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa merek besar memang dapat kembali, tetapi merebut kembali pasar membutuhkan lebih dari sekadar nama terkenal. Di industri smartphone, produk harus mampu menawarkan kombinasi harga, teknologi, pengalaman perangkat lunak, dukungan jangka panjang, dan nilai yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Nokia pernah menjadi penguasa pasar ponsel. Namun, ketika kembali ke era smartphone, tantangannya bukan lagi sekadar membuat ponsel yang bagus. Tantangannya adalah memenangkan persaingan di pasar yang sudah dipenuhi pemain kuat dan konsumen yang semakin kritis.(*)