Nokia Kembali dengan Android, tetapi Mengapa Gagal Mengulang Kejayaan Masa Lalu?

Rabu 19-08-2026,17:45 WIB
Reporter : Andika Putra
Editor : Andika Putra

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID - Ketika Nokia kembali membawa smartphone Android ke pasar global, banyak penggemar lama berharap kejayaan merek asal Finlandia itu dapat terulang. Nama Nokia masih memiliki daya tarik kuat berkat sejarah panjangnya di industri ponsel. Namun, kondisi pasar yang dihadapi saat itu sudah jauh berbeda dibanding era ketika Nokia menjadi pemimpin.

Kembalinya Nokia ke bisnis ponsel terjadi setelah HMD Global memperoleh hak untuk menggunakan merek Nokia pada perangkat seluler. HMD memasuki pasar pada 2016 dan pada 2017 memperkenalkan sejumlah smartphone Android sekaligus menghidupkan kembali Nokia 3310.

Strategi tersebut membuat Nokia kembali diperbincangkan. Akan tetapi, nostalgia ternyata tidak cukup untuk mengembalikan posisi lama mereka. Konsumen smartphone sudah memiliki banyak pilihan dari berbagai produsen dengan persaingan spesifikasi, harga, kamera, baterai, dan perangkat lunak yang semakin ketat.

Nokia mencoba memulai dari awal

HMD Global memasuki industri ponsel dengan membawa nama Nokia, tetapi perusahaan tersebut bukanlah Nokia Corporation yang sebelumnya mengembangkan dan menjual ponsel Nokia.

Perbedaannya penting. Setelah Nokia menyelesaikan penjualan sebagian besar bisnis Devices & Services kepada Microsoft pada 25 April 2014, Nokia Corporation lebih berfokus pada bisnis yang tersisa, termasuk teknologi jaringan. Transaksi tersebut memiliki nilai sekitar 5,44 miliar euro sebelum penyesuaian akhir.

Beberapa tahun kemudian, HMD mendapatkan lisensi untuk menggunakan merek Nokia pada ponsel dan tablet. Perusahaan Finlandia tersebut kemudian memperkenalkan smartphone Android baru pada 2017.

Nokia 6, Nokia 5, dan Nokia 3 menjadi bagian dari generasi awal smartphone tersebut. HMD juga menghadirkan Nokia 3310 versi modern untuk memanfaatkan daya tarik salah satu produk paling dikenal dalam sejarah Nokia.

Android menjadi pilihan yang berbeda

Ada satu hal yang membedakan era baru tersebut dari periode sebelumnya. HMD tidak mengulang strategi Windows Phone. Smartphone Nokia generasi awal menggunakan Android.

Pilihan tersebut membuat perangkat Nokia dapat mengakses ekosistem aplikasi Android yang sudah jauh lebih besar. HMD bahkan menekankan pengalaman Android yang bersih dan minim perubahan pada sistem operasi.

Strategi ini memberi Nokia kesempatan untuk kembali memasuki pasar smartphone tanpa harus membangun ekosistem aplikasi sendiri dari awal.

Namun, penggunaan Android juga berarti Nokia harus bersaing langsung dengan banyak produsen lain yang menggunakan platform sama. Merek tersebut tidak lagi memiliki keunggulan eksklusif hanya karena menggunakan sistem operasi tertentu.

Nama besar tidak otomatis menjamin penjualan

Pada era feature phone, kekuatan merek Nokia sangat berkaitan dengan pengalaman konsumen menggunakan perangkat yang sederhana dan tahan lama. Ketika smartphone berkembang, faktor yang menentukan keputusan pembelian menjadi jauh lebih beragam.

Konsumen mulai memperhatikan chipset, kapasitas RAM, penyimpanan, kualitas kamera, layar, kecepatan pengisian daya, harga, serta dukungan pembaruan perangkat lunak.

Persaingan juga semakin ketat karena produsen smartphone menawarkan banyak pilihan dalam kelas harga yang sama. Nokia harus berhadapan dengan perusahaan yang agresif memperbarui perangkat dan menawarkan spesifikasi tinggi.

Kondisi tersebut membuat strategi berbasis nostalgia memiliki batas. Peluncuran kembali Nokia 3310 memang menarik perhatian, tetapi keberhasilan sebuah feature phone tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan smartphone dalam pasar modern.

HMD mulai memperkuat mereknya sendiri

Kategori :