81 tahun RI Disway

Nokia Tumbang Bukan Sekadar Gengsi, Ini Rangkaian Keputusan yang Mengubah Sang Raja Ponsel

Nokia Tumbang Bukan Sekadar Gengsi, Ini Rangkaian Keputusan yang Mengubah Sang Raja Ponsel

Nokia pernah menjadi raja ponsel Indonesia. Simak alasan bisnis ponsel Nokia kehilangan dominasi setelah era smartphone dan Android berkembang pesat.-Yt LABA BISNIS-Yt LABA BISNIS

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID - Nokia pernah menjadi salah satu merek ponsel paling dominan di Indonesia. Pada era 2000-an, berbagai seri seperti Nokia 3310, Nokia N Series, hingga lini musik Nokia XpressMusic begitu mudah ditemukan di tangan masyarakat. Namun, kejayaan tersebut perlahan berakhir ketika industri telepon seluler memasuki era smartphone.

Kejatuhan Nokia bukan hanya persoalan gengsi manajemen. Ada sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari lambatnya perubahan strategi, tantangan sistem operasi Symbian, hingga ketidakmampuan membangun ekosistem aplikasi yang mampu menandingi Android dan iOS. Perubahan perilaku konsumen juga membuat keunggulan lama Nokia tidak lagi menjadi faktor utama dalam memilih ponsel.

Menariknya, Nokia sebenarnya tidak bangkrut. Nokia Corporation tetap berdiri dan menjalankan bisnis teknologi, terutama di sektor infrastruktur jaringan telekomunikasi. Yang berakhir adalah bisnis perangkat dan layanan ponselnya setelah sebagian besar divisi tersebut dijual kepada Microsoft pada 2014.

Ketika layar sentuh mengubah persaingan

Pada masa kejayaannya, Nokia memiliki sejumlah keunggulan yang disukai konsumen. Ponselnya dikenal memiliki desain kokoh, baterai yang relatif awet, serta papan ketik fisik yang nyaman untuk komunikasi melalui SMS.

Situasi berubah ketika Apple memperkenalkan iPhone pada 2007. Smartphone dengan layar sentuh penuh dan pengalaman internet yang lebih terintegrasi mulai mengubah standar industri. Konsumen perlahan menginginkan perangkat yang bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pusat hiburan, internet, dan aplikasi.

Nokia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi smartphone. Namun, Symbian menghadapi berbagai keterbatasan ketika kebutuhan perangkat berubah dengan cepat. Sistem operasi yang sebelumnya sangat kuat di ponsel konvensional harus beradaptasi dengan tuntutan layar sentuh dan aplikasi yang semakin kompleks.

Di saat yang sama, Google mengembangkan Android dengan pendekatan berbeda. Android tersedia bagi banyak produsen perangkat sehingga ekosistemnya berkembang sangat cepat. Samsung dan berbagai merek lain kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghadirkan smartphone dalam berbagai segmen harga.

Perubahan ini juga terasa kuat di Indonesia. Konsumen mulai mempertimbangkan aplikasi, akses media sosial, layanan pesan instan, kamera, dan kemampuan internet. Ketika smartphone Android semakin murah, semakin banyak pengguna Nokia berpindah platform.

Windows Phone tidak mampu mengejar Android

Nokia akhirnya mengambil keputusan besar pada 2011 dengan menjadikan Windows Phone dari Microsoft sebagai platform utama smartphone mereka. Strategi tersebut melahirkan lini Lumia yang memiliki sejumlah perangkat dengan desain dan kualitas kamera yang mendapat perhatian positif.

Namun, masalah utama Windows Phone bukan semata-mata kualitas perangkat. Platform tersebut kesulitan mendapatkan dukungan pengembang aplikasi. Jumlah pengguna yang lebih kecil membuat pengembang tidak memiliki insentif sebesar ketika mengembangkan aplikasi untuk Android dan iOS.

Kondisi tersebut menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Konsumen mempertimbangkan ketersediaan aplikasi sebelum membeli ponsel, sedangkan pengembang mempertimbangkan jumlah pengguna sebelum membuat aplikasi.

Pada akhirnya, strategi Nokia bersama Microsoft tidak berhasil mengembalikan posisi perusahaan di pasar smartphone. Microsoft kemudian menyelesaikan akuisisi sebagian besar bisnis Devices & Services Nokia pada April 2014 dengan nilai transaksi sekitar 5,4 miliar euro.

Nokia tetap ada setelah era ponsel berakhir

Penjualan divisi ponsel bukan berarti Nokia sebagai perusahaan ikut bangkrut. Setelah transaksi tersebut, Nokia lebih fokus pada bisnis jaringan dan teknologi telekomunikasi.

Perusahaan tetap menjadi pemain global di sektor infrastruktur jaringan. Namun, bisnis ini juga menghadapi siklus permintaan yang dipengaruhi investasi operator telekomunikasi. Pada kuartal II 2024, laba operasional Nokia dilaporkan turun 32 persen akibat lemahnya permintaan peralatan telekomunikasi di sejumlah pasar.

Sumber: yt laba bisnis