Gunung Kawi, Simbol Harmoni Budaya Jawa dan Tionghoa yang Bertahan hingga Kini

Jumat 07-08-2026,16:49 WIB
Reporter : Agung Santoso
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.IDGunung Kawi di Kabupaten Malang tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata religi dan spiritual. Kawasan yang berada di lereng Gunung Kawi ini juga menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Perpaduan dua tradisi tersebut menjadikan Gunung Kawi memiliki karakter yang unik. Di satu kawasan, masyarakat dapat menyaksikan tradisi ziarah Islam, ritual kepercayaan Tionghoa, hingga budaya lokal Jawa yang hidup berdampingan secara harmonis.

Fenomena tersebut menjadikan Gunung Kawi tidak hanya dipandang sebagai tempat berdoa atau mencari ketenangan batin, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman budaya dapat tumbuh tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

Makam Keramat Berdampingan dengan Klenteng

Salah satu daya tarik utama Gunung Kawi adalah keberadaan makam Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono yang menjadi tujuan ziarah banyak masyarakat.

Menariknya, tidak jauh dari kompleks makam tersebut berdiri Klenteng Dewi Agung Nyamplung atau Kwan Im Tong yang menjadi tempat ibadah umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa.

Pemandangan peziarah Muslim yang berdoa di area makam berdampingan dengan umat Tionghoa yang membakar hio menjadi gambaran nyata toleransi yang telah lama terbangun di kawasan ini.

Tradisi Ciam Si Berpadu dengan Kearifan Lokal Jawa

Akulturasi budaya juga terlihat melalui ritual Ciam Si, tradisi ramalan kuno dari Tiongkok yang dilakukan dengan menggoyangkan tabung berisi batang bambu hingga salah satunya keluar.

Di Gunung Kawi, hasil ramalan tersebut tidak hanya dimaknai berdasarkan tradisi Tionghoa, tetapi juga sering dihubungkan dengan nilai-nilai spiritual dan filosofi masyarakat Jawa oleh juru kunci maupun peramal setempat.

Perpaduan tersebut menciptakan pengalaman spiritual yang khas dan menjadi salah satu alasan banyak peziarah dari berbagai latar belakang datang ke Gunung Kawi.

Pohon Dewandaru Jadi Simbol Keberuntungan

Simbol lain yang melekat dengan Gunung Kawi adalah Pohon Dewandaru yang dipercaya membawa keberuntungan.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, pohon tersebut diyakini memiliki nilai sakral dan menjadi lambang perlindungan.

Sementara bagi sebagian masyarakat Tionghoa, daun maupun buah Dewandaru yang jatuh dipercaya sebagai simbol datangnya rezeki atau keberuntungan.

Tak sedikit peziarah yang menunggu di sekitar pohon dengan harapan memperoleh daun atau buah yang jatuh sebagai simbol doa dan harapan baik.

Warisan Toleransi yang Terus Terjaga

Keberadaan makam keramat, klenteng, ritual Ciam Si, hingga Pohon Dewandaru menunjukkan bahwa Gunung Kawi bukan sekadar destinasi spiritual.

Kawasan ini juga menjadi representasi harmoni budaya yang mempertemukan tradisi Jawa dan Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari.

Akulturasi tersebut membuktikan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan dapat hidup berdampingan serta saling menghormati tanpa harus menghilangkan jati diri masing-masing.

Kategori :