SURABAYA, DISWAYMALANG.ID–Dalam upaya menekan angka kecelakaan kereta api (KA), Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim membenahi perlintasan sebidang. Dishub Jatim telah menutup ratusan perlintasan sebidang, dari semula 555 titik kini tinggal 213 titik.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jatim Nyono merinci, dari 213 titik, sekitar 100 titik di antaranya akan ditutup permanen. Keputusan itu diambil karena lebar jalan di lokasi-lokasi tersebut kurang dari 2 meter. Sehingga dinilai tidak efektif dan berisiko tinggi bagi pengendara sepeda yang sering menyerobot.
BACA JUGA:KAI Pasang Palang Sementara di Perlintasan JPL 85 Bekasi Timur yang Picu Kecelakaan KA Maut
"Kita tertibkan dan kita tutup yang di bawah 2 meter. Nanti disatukan saja ke perlintasan yang sudah berpenjaga dan berpalang 24 jam. Ini langkah penyederhanaan agar lebih aman," ujar Nyono di sela sidang Paripurna DPRD Jatim, Senin siang, 11 Mei 2026, dikutip Hariandisway.id.
Dengan penutupan tersebut, maka tersisa 113 titik perlintasan yang memerlukan pembangunan palang pintu dan pos jaga. Dishub Jatim menargetkan 50 titik dapat diselesaikan pada tahun anggaran ini, sementara 63 sisanya akan dirampungkan pada tahun depan.
BACA JUGA:Masih Ada 220 Perlintasan Sebidang di Jatim Tak Berpalang Pintu
Penanganan itu, lanjut Nyono, merupakan hasil gotong royong antara Pemprov Jatim, pemerintah pusat melalui Balai Perkeretaapian, serta pemerintah kabupaten kota.
Dishub Bangunkan Palang, Penjaga Digaji Pemkot/Pemkab
Meski perlintasan tersebut berada di wilayah kabupaten kota, Pemprov Jatim mengambil inisiatif membangunkan fisik palang pintu dan posnya untuk kemudian dihibahkan.
"Gaji penjaganya nanti ikut kabupaten. Pemprov yang membangunkan pos dan palangnya, lalu kita hibahkan. Kalau tidak dibantu begini, mereka sering terkendala anggaran, padahal kecelakaan terus mengintai," jelasnya.
BACA JUGA:895 Wisatawan Asing Gunakan Kereta Api di Malang Raya saat Lebaran 2026, Naik 22 Persen
Berkat langkah proaktif itu, Nyono mengklaim tren kecelakaan kereta api di Jawa Timur terus menurun.
Selain faktor infrastruktur, Nyono juga menyoroti perilaku pengendara yang sering tidak sabar di perlintasan. Ia mengingatkan bahaya medan magnet yang muncul saat kereta akan melintas, yang sering menyebabkan mesin kendaraan mati mendadak di tengah rel.
"Kalau ada kereta, mending diam dan berhenti. Tunggu sampai lewat. Sebab, ada medan magnet dari rel yang bisa menghentikan fungsi dinamo atau kelistrikan mobil. Itu yang sering memicu kendaraan macet di tengah rel," pungkasnya.