Kenapa Ada Tradisi Takbir Keliling saat Lebaran? Ini Sejarah dan Maknanya di Indonesia

Sabtu 21-03-2026,07:54 WIB
Reporter : Abdul Halim
Editor : Abdul Halim

SUKUN, DISWAYMALANG.ID–Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana malam di berbagai daerah di Indonesia selalu dipenuhi gema takbir yang berkumandang. Salah satu tradisi yang paling dinanti masyarakat adalah takbir keliling, yakni kegiatan mengumandangkan takbir sambil berkeliling lingkungan atau jalanan.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan malam Lebaran, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan syiar Islam yang kuat di tengah masyarakat.

Apa Itu Takbir Keliling?

Takbir keliling adalah kegiatan mengumandangkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil secara bersama-sama sambil berjalan atau menggunakan kendaraan mengelilingi kampung maupun kota.

Biasanya, kegiatan ini dilakukan pada malam 1 Syawal atau malam takbiran, setelah umat Muslim menyelesaikan ibadah puasa Ramadan.

Di berbagai daerah, takbir keliling dilakukan dengan cara yang beragam. Ada yang berjalan kaki sambil membawa obor, ada pula yang menggunakan kendaraan hias dengan berbagai dekorasi menarik.

Berawal dari Tradisi Takbir dalam Islam

Secara ajaran, mengumandangkan takbir pada malam Idulfitri merupakan bagian dari syariat Islam sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya ibadah puasa Ramadan

Tradisi ini merujuk pada praktik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak takbir sejak terbenamnya matahari di akhir Ramadan hingga pelaksanaan salat Idulfitri.

Namun, konsep “berkeliling” dalam takbir keliling bukan berasal langsung dari ajaran inti, melainkan berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat Muslim di berbagai daerah.

BACA JUGA:Libur Lebaran, Disdikbud Kota Malang Minta Orang Tua Perketat Pengawasan Anak

Akulturasi Budaya Lokal

Takbir keliling di Indonesia merupakan hasil akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Masyarakat tidak hanya mengumandangkan takbir di masjid atau rumah, tetapi juga mengekspresikannya dalam bentuk perayaan bersama di ruang publik.

Di Jawa, tradisi ini berkembang menjadi lebih meriah dengan adanya arak-arakan, lampion, hingga kendaraan hias. Bahkan di beberapa daerah, takbir keliling dijadikan lomba antar kampung atau komunitas.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat berpadu dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensi ibadah itu sendiri.

Tags :
Kategori :

Terkait