JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Pemerintah menambah pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjelang Idulfitri 2026. Diimpor dari Australia, pasokan LPG ini dijadwalkan tiba pada akhir pekan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menjaga stabilitas pasokan energi selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Pemerintah memantau dinamika rantai pasok LPG global yang saat ini mengalami berbagai tantangan. Bahlil menjelaskan, total impor LPG Indonesia saat ini mencapai 7,6 juta ton per tahun.
BACA JUGA:Lima Pesawat Tanker AS Rusak saat Rudal Iran Hantam Pangkalan Udara AS di Arab Saudi
Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Amerika Serikat dengan porsi sekitar 70–72 persen, sementara sekitar 20 persen berasal dari Timur Tengah dan sisanya dari negara lain, termasuk Australia.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, pemerintah mulai melakukan diversifikasi sumber impor LPG. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuka kontrak pasokan baru dengan beberapa negara, termasuk Australia.
"Dengan kondisi sekarang, yang di Middle East kita pecah lagi, untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia, itu untuk LPG," imbuhnya.
BACA JUGA:GP China 2026: Russell Juara Sprint Race, Bertahan dari Serangan Hamilton-Leclerc
Menurut Bahlil, cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini berada dalam kondisi sangat memadai. Ia merinci bahwa cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 mencapai 24,39 hari, melampaui batas minimal yang ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, cadangan Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 tercatat mencapai 28 hari dan RON 98 mencapai 31 hari. Sedangkan stok solar subsidi tercatat mencapai 16,41 hari, solar CN 53 mencapai 46 hari, dan Avtur mencapai 38 hari.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran dapat terpenuhi. "Jadi saya pikir untuk urusan bensin, Insya Allah clear Bapak (Presiden). Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, Insya Allah aman Bapak," lapor Bahlil.
Kondisi ini diperkuat dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang diresmikan pada Januari 2026.
Proyek tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi BBM nasional sekaligus menekan impor bahan bakar, dengan potensi pengurangan impor bensin hingga 5,5 juta ton dan solar hingga 3,5 juta ton per tahun.
Meski demikian, sebagian kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi melalui impor dari Malaysia dan Singapura.