MALANG, DISWAYMALANG.ID--Kuliah tamu yang merupakan agenda tahunan Institut Asia Malang pada Kamis (12/3/2026) terasa spesial dengan kehadiran narasumber Dahlan Iskan. Tokoh pers nasional sekaligus mantan Menteri BUMN, dan founder Disway ini menyampaikan materi "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial". Acara dipandu tuan rumah yang juga Rektor Institut Asia Risa Santoso BA MEd, pemegang rekor MURI sebagai rektor termuda di Indonesia.
Kuluah tamu "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial" bersama Dahlan Iskan dengan host Risa Santoso di Institut Asia Malang--tim diswaymalang.id
Di hadapan 200 peserta yang hadir secara hybrid, kuliah tamu hasil kerja sama dengan Disway Malang dan Harian Disway ini juga mengupas isi buku terbaru Dahlan Iskan, Teladan dari Tiongkok. Buku tersebut lahir dari keinginan sebuah lembaga yang bermitra dengan Tiongkok agar pemikiran Dahlan selama delapan tahun terakhir dapat terdokumentasi dan dipelajari oleh khalayak luas.
BACA JUGA:FIA UB Buka Program Joint Degree/Double Degree dengan Universitas Mitra Internasional
Meritokrasi vs Demokrasi: Dilema Indonesia
Salah satu poin paling tajam yang disampaikan Dahlan adalah mengenai sistem meritokrasi Tiongkok. Di sana, siapa pun yang berprestasi berhak naik pangkat. Termasuk di jalur pemerintahan, mulai pemda hingga pusat. Tanpa memandang relasi keluarga, pertemanan, atau balas budi partai. Namun, Dahlan pesimistis hal ini bisa ditiru Indonesia.
"Apakah kita bisa belajar dari situ? Tidak, karena kita negara demokrasi. Pilarnya adalah partai. Semua ditentukan oleh partai. Sementara partai sebagai piliar tidak menjalankan meritokrasi. Jadi, sebenarnya buku ini bisa dianggap sia-sia karena sistem kita tidak memungkinkan untuk belajar dari mereka," ungkap Dahlan blak-blakan.
Dahlan kemudian membandingkan partai di Indonesia dengan di Tiongkok. Sistem kaderisasi partai di Tiongkok juga menggunakan meritokrasi. Untuk menjadi anggota partai harus melalui tes yang sangat ketat untuk memastikan kandidat tersebut membawa kebaikan.
Ia kemudian sempat menyentil partai di dalam negeri, "Di sana prosesnya panjang, dari daftar sampai jadi anggota. Setelah jadi anggota, untuk menjadi pengurus juga seleksi ketat. Di sini, partai malah menawar-nawari orang menjadi anggota dengan gampang. Bahkan, orang tidak pernah menjadi anggota partai, tiba-tiba bisa langsung jadi ketua umum," ujarnya.
BACA JUGA:Harga Sembako Rawan Naik Jelang Lebaran, Kejari Malang Dukung Pasar Murah Pemkot
BACA JUGA:Jelang Lebaran, Wali Kota Malang Cek Parsel di Mal untuk Pastikan Produk Aman
Kuluah tamu "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial" bersama Dahlan Iskan dengan host Risa Santoso di Institut Asia Malang--tim diswaymalang.id
Membuka Tabu Komunisme dan Halal
Dahlan juga mengatakan, Tiongkok dengan sistem meritokrasinya, berkembang dengan sangat cepat menjadi negara maju. Banyak orang di Indonesia berpikir negatif tentang Tiongkok, misalnya komunis dan diktator. Namun, apa pun yang dipikirkan orang tentang Tiongkok, negeri Tirai Bambu itu akan menjadi raksasa dunia.
"Orang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, saya katakan Tiongkok tetap akan menjadi raksasa dunia," kata Dahlan.
Karena itu, Dahlan yang juga pimpinan pondok pesantren ingin mengirim pemuda-pemuda Islam untuk belajar ke Tiongkok. Selama delapan tahun sebuah yayasan yang dia dirikan memberangkatkan 300 mahasiswa per tahun untuk kuliah di Tiongkok.