Dahlan Iskan di Institut Asia Malang: Membaca Zaman, Menyikapi Algoritma, dan Tantangan Meritokrasi Tiongkok

Kamis 12-03-2026,20:47 WIB
Reporter : Alysia Devi Rahma Putri
Editor : Mohammad Khakim

Dahlan kemudian menjelaskan contoh lainnya. Yakni banyak orang-orang menengah ke bawah sekarang pintar-pintar dan bersemangat ingin maju secara ekonomi. Mereka tidak punya sepeda motor, kemudian mencicil motor. Pertimbangannya, jatuhnya lebih murah daripada naik angkot 2-3 kali.

Naik angkot tiap hari tidak cukup sekali jalan. Bisa 2-3 kali pindah angkot. Mereka berhitung, dalam sebulan biaya naik angkot bisa untuk mencicil sepeda motor. Akhirnya mereka beli sepeda motor dengan cara mencicil.

"Setelah beli 1 motor, beli lagi untuk istrinya. Setelah punya 2 motor, beli lagi untuk anaknya. Nah, orang-orang yang seperti ini jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Belum ada penelitian, tapi menurut saya ada kalau 120 juta orang. Nah, orang-orang seperti inilah indikator kemajuan yang nyata dari bawah. Karena itu, saya bilang siapa pun presidennya, Indonesia akan bisa maju," tuturnya.

Terjebak Algoritma dan Hoax

Pada akhir sesinya, Dahlan menjawab pertanyaan audiens terkait algoritma. Dia mengingatkan bahwa algoritma media sosial yang bisa mengurung pemikiran seseorang. Ia mencontohkan bagaimana fokus manusia saat ini mudah teralihkan oleh ponsel, bahkan dalam acara sakral sekalipun.

BACA JUGA:Desainer Ungkap Makna Logo HUT ke-112 Kota Malang, Dari Sudut 14 Derajat hingga Air Mancur Alun-Alun

BACA JUGA:Wali Kota Wahyu Hidayat Resmikan Logo HUT ke-112 Kota Malang, Simbol “Ngalam Mbois Berkelas

"Dunia digital membuat kita susah lepas dari HP. Berita perang banyak hoaksnya karena algoritma hanya menyodorkan apa yang ingin kita lihat," ujarnya.

Dahlan juga menegaskan, Indonesia butuh pemimpin yang berani bertindak tegas untuk mengubah kebijakan parpol dan UU parpol agar perubahan besar bisa terjadi.

Melalui diskusi ini, Institut Asia Malang kembali menegaskan perannya sebagai wadah yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga menjadi pemain yang kritis dan adaptif.

Sebagaimana pesan penutup dalam acara tersebut, ilmu pengetahuan mungkin datang dari masa lalu, namun masa depan hanya milik mereka yang berani membaca zaman dengan kacamata yang merdeka dan penuh tanya.

Kerja Sama Institut Asia dan Disway Malang


Direktur Disway Malang Agung Pamujo dan Rektor Institut Asia Malang Risa Santoso menandatangani naskah kerja sama disaksikan founder Disway Dahlan Iskan. -m.khakim/diswaymalang.id --

Pada kesempatan tersebut, sebelum inti acara, juga digelar penandatanganan kerja sama antara Institut Asia dan Disway Malang dengan disaksikan founder Disway Dahlan Iskan. Naskah kerja sama diteken Direktur Disway Malang Agung Pamujo dan Rektor Institut Asia Risa Santoso.

Kerja sama dengan Institut Asia adalah kerja sama kali kesekian yang dilakukan Disway Malang dengan kalangan kampus. Disway Malang juga telah dan sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah fakultas dan unit usaha Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Malang (Unisma), Politeknik Negeri Malang (Polinema), serta kampus-kampus lainnya. 

Kategori :