Dahlan Iskan di Institut Asia Malang: Membaca Zaman, Menyikapi Algoritma, dan Tantangan Meritokrasi Tiongkok

Kamis 12-03-2026,20:47 WIB
Reporter : Alysia Devi Rahma Putri
Editor : Mohammad Khakim

Langkah ini sering terganjal ketakutan orang tua akan isu komunisme dan makanan haram. Mereka takut anaknya jadi komunis dan makan babi.  

"Pertanyaan orang tua selalu: 'nanti anak saya jadi komunis?' Padahal jumlah orang komunis di sana hanya 5 persen dan tidak akan bertambah, itu sudah regulasi di sana. Soal makan babi? Saya jamin di universitas ada kantin halal. Bahkan saat saya mengantar kolega dari Mojokerto operasi ganti hati di sana, ada lima restoran halal di sekitar rumah sakit. Sekarang zaman baru, di sana franchise makanan halal punya 100 ribu cabang, tersebar di berbagai kota bahkan daerah terpencil," jelasnya.

Rektor Institut Asia Risa Santoso yang lulusan S2 (Master of Arts) Harvard University, Amerika Serikat, menambahkan, betapa kemajuan teknologi di Tiongkok sudah sangat jauh. "Teman saya ketika ke sana bercerita, saat di atas Great Wall (Tembok Besar China), pesan makanan, kurir yang mengantar adalah drone. Mahasiswa harus tahu bagaimana cara keep up dengan ini," ujar Risa.

BACA JUGA:Tiket KA Mudik dari Malang Terjual 59 Ribu, Puncak Arus Diprediksi 17–19 Maret

BACA JUGA:Perkuat Tata Kelola Bersih, Wali Kota Batu Pimpin Penandatanganan Pakta Integritas Susulan

Revolusi Mental Dosen Era Medsos

Dahlan juga memberikan masukan tajam bagi dunia pendidikan. Menurutnya, dosen yang merasa paling pintar adalah ancaman bagi kemajuan. Di era media sosial, mahasiswa bisa menemukan guru terbaik dunia hanya dari ponsel mereka.

"Dosen yang menganggap mahasiswa tidak lebih pintar dari dirinya, saya bilang sangat celaka itu. Mahasiswa hanya sering takut terlihat menggurui dosennya. Dosen tidak harus lebih pintar, tapi dosen harus tahu bagaimana mengarahkan. Tugas dosen itu membuat mahasiswa bertanya, bukan sekadar memberi ilmu. Karena kunci ilmu adalah pertanyaan; kalau tidak bertanya, tidak akan dapat ilmu," tegas Dahlan.

Dahlan juga bercerita bahwa dirinya lebih suka mencari dokter muda jika sakit, daripada yang tua. Karena dokter senior selain merasa hebat juga malas mengikuti perkembangan medis melalui media untuk memantau perkembangan kasus-kasus penyakit terbaru.

BACA JUGA:Sambut Libur Lebaran 2026, Wamenpar Ni Luh Puspa Pantau Kesiapan Destinasi Wisata di Kabupaten Malang

BACA JUGA:AITF 2026 Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi AI yang Diakui Pasar Internasional

Ekonomi: Antara Angka dan Realita Ibu-Ibu


Kuluah tamu "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial" bersama Dahlan Iskan dengan host Risa Santoso di Institut Asia Malang--tim diswaymalang.id

Menjawab host Risa Santoso soal kondisi ekonomi dalam negeri, Dahlan menyoroti stagnansi pendapatan per kapita Indonesia yang dalam 10-12 tahun terakhir hanya bergerak di angka 4.800 hingga 5.000 dollar AS (USD). Untuk menjadi negara maju, angka tersebut idealnya mencapai USD13.000yang harusnya dicapai pada tahun lalu.

"Prabowo sadar tidak mungkin pakai cara kuno untuk mencapai angka itu. Dia mengubah kebijakan, dengan membuat kebijakan memajukan kalangan bawah. Dengan MBG (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Merah Putih. Itu betul-betul perubahan setelah 10 tahun terakhir kemajuan ekonomi stagnan," jelas Dahlan.

Namun, yang jadi persoalan, perubahan itu belum tentu membuahkan hasil berupa kemajuan. Bisa juga perubahan itu menghasilkan kegagalan. Itu yang membuat dirinya deg-degan.

Namun demikian, Dahlan yakin Indonesia pasti akan maju. Itu karena rakyatnya ingin maju. Dia mencontohkan emak-emak yang sangat bersemangat membeli kebutuhan. Dia lalu menunjuk salah satu audiens ibu-ibu berjilbab dan menebak bahwa ibu tersebut paling tidak memiliki 50 jilbab. Ternyata sang Ibu itu membenarkan, bahkan mengaku punya lebih dari 50 jilbab. 

BACA JUGA:FIA UB Buka Program Joint Degree/Double Degree dengan Universitas Mitra Internasional

Kategori :