MALANG, DISWAYMALANG.ID--Setiap tanggal 27 Januari, dunia mengheningkan cipta untuk mengenang salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam dalam sejarah modern. Hari Peringatan Holocaust Internasional, yang ditetapkan secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bukan sekadar tanggal di kalender, namun simbol perlawanan terhadap kebencian dan ketidakadilan.
BACA JUGA:Ringworm Bikin Kucing Gatal-Gatal, Lenyapkan dengan Bahan Alami Ampuh Ini
Pemilihan tanggal ini merujuk pada peristiwa bersejarah tahun 1945, saat Tentara Merah Soviet berhasil membebaskan kompleks kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau yang menjadi pusat penderitaan jutaan nyawa di bawah rezim Nazi.
Penetapan hari peringatan ini melalui Resolusi Majelis Umum PBB pada tahun 2005 membawa pesan global yang sangat mendalam. Melalui peringatan ini, komunitas internasional diajak untuk membangun kesadaran kolektif serta menghormati martabat para korban yang telah dirampas secara paksa.
Fokus utamanya tidak terbatas pada satu kelompok saja, melainkan bertujuan mengedukasi masyarakat dunia agar mampu mengenali dan mencegah bibit-bibit genosida serta intoleransi agar tidak kembali tumbuh di masa depan.
Lembaran Hitam Sejarah dan Tragedi Shoah
Melansir ulasan dari National Geographic, Holocaust atau Shoah merupakan tragedi yang sulit dicerna hanya melalui deretan angka statistik. Sebelum tahun 1933, jutaan warga Yahudi hidup dan berkembang pesat di seantero Eropa sebelum akhirnya menjadi sasaran sentimen anti-Semitisme yang dikobarkan oleh Adolf Hitler.
Adolf Hitler pemimpin Nazi yang paling kejam--The New York Times
Sejarawan Timothy Snyder dalam buku Bloodlands: Europe Between Hitler and Stalin mengungkapkan bahwa Hitler terobsesi pada ekspansi wilayah demi ambisi industrialisasi. Berujung pada pengusiran dan pemusnahan penduduk asli demi mendapatkan tanah subur.
Awalnya, pemusnahan massal bukan merupakan rencana utama, namun kegagalan strategi militer mengubah arah kebijakan Nazi menuju "Solusi Akhir" pada Konferensi Wannsee tahun 1942. Sejak saat itu, metode pembunuhan sistematis dimulai secara masif.
BACA JUGA:Bencana Longsor Cisarua, Bandung Barat: 11 dari 17 Jenazah Teridentifikasi
Enam juta nyawa melayang dalam operasi pembersihan etnis ini, termasuk satu juta orang yang dieksekusi di kamar gas Auschwitz-Birkenau, meninggalkan luka yang sangat dalam bagi peradaban manusia.
Para tahanan di barak-barak di kamp konsentrasi Buchenwald.--The National WWII Museum
Makna Mendalam di Balik Sebuah Peringatan
Peringatan ini membawa makna yang jauh melampaui seremoni formal, yakni sebagai upaya memulihkan martabat para korban melalui perawatan ingatan sejarah. Nilai kemanusiaan menjadi inti utama, di mana dunia diingatkan bahwa setiap individu memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat untuk hidup dengan aman.