1 tahun disway

KH Miftachul Akhyar Surati Gus Yahya, Minta Penjelasan soal Undangan Harlah ke-100 PBNU

KH Miftachul Akhyar Surati Gus Yahya, Minta Penjelasan soal Undangan Harlah ke-100 PBNU

KH Imam Jazuli mengunggah surat tabayyun Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar kepada Gus Yahya di akun instagramnya.-Tangkapan layar---

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Adem lumayan lama, konflik di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) muncul ‘riak-riak’ lagi. Di media sosial, beredar luas surat tabayyun atau minta klarifikasi dari Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar kepada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Adalah tokoh NU sekaligus Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon Imam Jazuli mengunggah surat tersebut di akun Instagramnya, @imamjazuli76, Selasa, 27 Januari 2026. Unggahan itu diberi caption atau keterangan foto: Tabayyun Rois Am PBNU Kepada Gus Yahya Cholil Staquf (Mantan Ketum PBNU).

BACA JUGA:Kemiskinan Kota Malang Turun ke 3,85 Persen, Wali Kota: Ekonomi Daerah Menguat

Unggahan itu memuat dua halaman surat resmi berkop PBNU yang tertanggal 26 Januari 2026 bernomor 4833/PB.23/A.II.08.71/99/01/2026. Dalam suratnya, Kiai Miftach menyampaikan bahwa dirinya menerima banyak pertanyaan dari berbagai pihak terkait beredarnya undangan Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 Tahun Masehi.


Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menghadiri pertemuan kiai NU di Ponpes Lirboyo, Kamis (25/12/2025). Foto: Dok. Istimewa--

“Saya telah menerima banyak pertanyaan tentang beredarnya Undangan Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 Masehi sebagaimana terlampir,” tulis Kiai Miftach dalam surat itu.

Ia kemudian meminta klarifikasi langsung kepada Gus Yahya terkait kebenaran undangan tersebut. “Sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon Panjenengan dapat memberikan klarifikasi atas kebenaran undangan tersebut,” lanjutnya.

BACA JUGA:Selecta Siapkan Event Lebaran, Adakan Dino untuk Jalan dengan Pengunjung

Rais Aam PBNU juga menegaskan pentingnya mekanisme organisasi, khususnya pelaksanaan Rapat Pleno, sebelum keputusan strategis dijalankan. Ia mengingatkan bahwa hal itu telah disampaikan sejak pertemuan sebelumnya, merujuk pertemuan di Surabaya pada Desember 2025.

Terkait kondisi internal PBNU, Kiai Miftach berharap polemik yang berkembang dapat segera diakhiri demi menjaga kebersamaan pengurus. “Saya berharap, surat ‘permohonan maaf’ itu dapat menutup ‘kegaduhan’ secara menyeluruh,” tulisnya, seraya menegaskan bahwa kebersamaan seperti awal kepengurusan perlu segera diwujudkan kembali.

BACA JUGA:Untuk Bianglala Alun-Alun, Pemkot Batu Siapkan Skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha

Dalam bagian akhir surat, Rais Aam PBNU secara khusus meminta agar rencana pelaksanaan Harlah ke-100 NU pada 31 Januari 2026 di Istora Senayan Jakarta dipertimbangkan ulang.

“Saya berharap agar Panjenengan dapat mempertimbangkan kembali rencana penyelenggaraan kegiatan Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 Tahun Masehi di Istora Senayan Jakarta pada tanggal 31 Januari 2026,” tulisnya.

Menurut Kiai Miftach, peringatan Harlah masih dapat dilaksanakan di waktu lain, sementara prioritas utama saat ini adalah menjaga ketertiban organisasi. “Yang terpenting saat ini adalah Jam’iyah ini dapat berjalan dengan baik, tertib dan sesuai dengan kaidah berorganisasi yang baik,” tegasnya.

Sumber: harian.disway.id