Catatan penting yang perlu dilakukan agar siklus ini tidak berulang di antaranya adalah:
Memperkuat lini informasi pasokan cabai berbasis data
Jika kebutuhan konsumsi sekitar76–78 ribu ton/bulan, maka setiap indikasi penurunan produksi atau terhambatnya jalur distribusi harus terdeteksi lebih awal (mingguan), tidak setelah harga melonjak tinggi. Angka produksi-proyeksi dari Bapanas dapat menjadi acuan, selanjutnya yang dibutuhkan adalah respons tanggap operasional yang lebih cepat di lapangan.
Memperbaiki konektivitas antarsentra cabai
Saling bertukar informasi terkait praktik budidaya, penguatan kelembagaan klaster, rantai logistik, konsolidasi distribusi, dan fasilitasi perdagangan antar daerah saat indikator defisit produk muncul. Cabai tidak butuh kebijakan rumit namun membutuhkan kecepatan penanganan terstruktur.
Mendorong pola tanam bergilir antarsentra dengan insentif dan pendampingan
Permasalahan cabai sering terjadi bukan pada produksi tahunan, tetapi puncak panen yang menumpuk pada waktu bersamaan kemudian terjadi jeda pasokan cukup lama yang berakibat pada naiknya harga.
Lonjakan harga cabai beberapa bulan ini seharusnya tidak lagi diterima sebagai takdir musiman.Data menunjukkan permintaan bulanan cenderung stabil, sementara pasokan berada pada kondisi yang sangat rentan. Selama struktur ini tidak dibenahi, fenomena akan terus berulang, harga cabai naik, inflasi melejit, kemudian semua kembali normal sampai siklus berikutnya datang.
* Penulis adalah Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya