Warung berjalan ini buka setiap hari pukul 10.00–17.00, mengikuti ritme pasar yang hidup sejak pagi hingga menjelang sore. Namun, dengan ramainya pengunjung yang menyerbu sejak digelarnya sajian, tidak memungkiri bahwa bubur ini cepat habis sebelum sore hari, karena penjual juga sedia menu tak terlalu banyak.
BACA JUGA:Rekomendasi 9 Kuliner Hangat Malang Raya di Tengah Musim Hujan Ekstrem
Tradisi Yang Diturunkan dari Generasi ke Generasi
Penyajian Bubur Madura di piring kecil ketika pelanggan ingin menikmatinya langsung di tempat.-Elsa Amalia Kartika Putri-Disway Malang
Silvia Ristanti, pelanggan setia, mengaku selalu menyempatkan diri mampir setiap berbelanja bahan masak di Pasar Besar bersama ibunya. “Aku suka banget rasanya yang tetap sama dari dulu. Sekarang lebih enak karena disediakan kursi plastik, jadi bisa makan di tempat,” ujar Silvia.
Testimoni seperti ini bukan hal baru, banyak pelanggan yang mengaku sudah makan di sini sejak kecil, lalu kini membawa anak mereka untuk mencicipi rasa yang sama. Inilah bukti bahwa kuliner tradisional tidak selalu kalah oleh modernisasi. Selama cita rasa dijaga, kenangan akan tetap hidup.
Di tengah maraknya kafe modern dan kuliner kekinian, bubur Madura di sudut Pasar Besar Malang membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Hidangan ini bukan hanya pilihan sarapan atau camilan sore. Tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya kuliner Malang yang tak lekang waktu.