81 tahun RI Disway

Mengenal Udeng Malangan, Warisan Budaya Arema yang Tetap Bertahan di Era Modern

Mengenal Udeng Malangan, Warisan Budaya Arema yang Tetap Bertahan di Era Modern

Udeng khas Malangan yang masih dilestarikan sebagai simbol budaya di Malang--

KEPANJEN, DISWAYMALANG.IDUdeng Malangan tetap menjadi simbol identitas budaya masyarakat Malang Raya di tengah berkembangnya tren busana modern. Ikat kepala tradisional yang dikenal sebagai Udeng Kemplengan ini bukan sekadar pelengkap pakaian adat, tetapi juga menyimpan nilai filosofi, kepemimpinan, dan spiritualitas yang diwariskan secara turun-temurun.

Berbeda dengan blangkon Jawa Tengah yang berbentuk membulat maupun udeng Bali yang memiliki simpul mencuat di bagian depan, Udeng Malangan tampil dengan bentuk geometris yang tegas dan kokoh. Karakter tersebut melambangkan keteguhan, keberanian, dan jiwa ksatria khas masyarakat Arema.

Empat Filosofi Utama Udeng Malangan

Dalam pembuatannya, Udeng Malangan memiliki empat pakem utama yang tidak boleh diubah karena masing-masing mengandung pesan moral.

BACA JUGA:Syphon Metro Kepanjen, Warisan Teknik Belanda Berusia 123 Tahun yang Masih Mengairi Ribuan Hektare Sawah

Gunungan yang berada di bagian belakang berbentuk segitiga menyerupai gunung. Bagian ini melambangkan cita-cita tinggi, keteguhan hati, sekaligus hubungan manusia dengan Tuhan.

Jeprakan di sisi kanan dan kiri dibuat dengan tinggi yang seimbang. Filosofinya adalah keadilan, kesetaraan, serta keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Puteran merupakan lilitan kain yang mengelilingi kepala. Maknanya sebagai pengingat agar manusia mampu mengendalikan pikiran, emosi, dan hawa nafsu sebelum mengambil keputusan.

Sementara Tali Wangsul menjadi simpul pengikat di bagian belakang. Kata wangsul berarti kembali, mengandung pesan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

BACA JUGA:Tidak hanya Soal Tempe, Ini Asal Usul Nama Desa Beji Kota Batu yang Sarat Sejarah

Motif Batik Sarat Nilai Sejarah

Udeng Malangan umumnya dibuat menggunakan kain Batik Malangan berbahan katun primisima agar bentuk lipatannya tetap tegak.

Salah satu motif yang paling dikenal adalah Garudeya, yang terinspirasi dari relief Candi Jago di Kecamatan Tumpang. Motif tersebut melambangkan keberanian, perjuangan, dan pembebasan dari berbagai belenggu kehidupan.

Selain itu, motif Bunga Teratai peninggalan Kerajaan Singhasari juga sering digunakan sebagai simbol kesucian hati dan kebijaksanaan.

Dominasi warna cokelat soga, hitam, hingga biru khas Arema semakin memperkuat karakter tegas yang menjadi ciri khas Udeng Malangan.

BACA JUGA:Mengapa Malang Dijuluki Heilige Dorado van Oost Java? Ini Sejarah dan Maknanya

Tetap Eksis di Era Modern

Sumber:

Berita Terkait