UB Gandeng PLN untuk Riset Kendaraan Berbasis Hidrogen
Dari kiri ke kanan : Perwakilan tim APPATE, Perwakilan Pihak PT PLN, dan Perwakilan Pihak UB Memegang Fuel Cell--prasetya.ub.ac.id
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Universitas Brawijaya (UB) bersama PT PLN (Persero) memulai kolaborasi riset pengembangan kendaraan berbasis energi bersih. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendukung transisi energi nasional menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Proyek yang dikembangkan menggabungkan teknologi kendaraan listrik dengan hidrogen sebagai sumber energi tambahan guna meningkatkan efisiensi dan performa kendaraan.
Dikutip dari laman resmi UB, Senin (27/4/2026), Manager PT PLN (Persero) Ir Toufiq Fahrudin ST MT menjelaskan, melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan, PLN berperan sebagai pusat inovasi dan pengembangan teknologi di sektor energi. Kerja sama dengan UB telah berlangsung sejak 2024 dan terus berkembang, baik dari sisi jumlah topik riset maupun keterlibatan tim.
“Dalam skema kerja sama dengan universitas, PLN memberikan dukungan berupa fasilitas media penelitian hingga dukungan perjalanan dinas,” ujarnya.
BACA JUGA:27 April Hari Tapir Sedunia, Ini 9 Fakta Hewan yang Juga Disebut Badak Babi
Salah satu kolaborasi yang menonjol dalam kerja sama ini melibatkan tim Apatte 62, yang dikenal sebagai tim mahasiswa Fakultas Teknik UB dengan fokus pada pengembangan kendaraan hemat energi. Keikutsertaan tim ini menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam riset strategis yang berdampak luas.
Jumat (24/4/2026) lalu, UB dan PLN menggelar diskusi dan kick off meeting proyek konversi kendaraan hybrid hidrogen–electric vehicle (EV). Kegiatan ini berlangsung di Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) UB.
Dari pihak UB, peneliti Dr ES Widha Kusumaningdyah ST MT menekankan, riset yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada teknologi semata. Namun, juga memperhatikan integrasi antara perangkat lunak dan perangkat keras serta dampaknya terhadap masyarakat.
“Kami memfokuskan riset pada kolaborasi antara software dan hardware. Tidak hanya pada pengembangan alat. Tetapi juga membangun ekosistem riset yang mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintasdisiplin, termasuk dengan Fakultas Ilmu Komputer, menjadi kunci dalam membangun ekosistem riset yang relevan dengan kebutuhan industri.
Sementara itu, pimpinan DIKST UB Brillyanes Sanawiri SAB MBA PhD berharap kerja sama ini dapat menjadi ruang bagi dosen dan peneliti untuk mengembangkan inovasi yang aplikatif serta berkontribusi langsung pada penguatan industri nasional.
BACA JUGA:Gandeng Pemkab Malang, FPIK UB Bakal Terjunkan 850 Mahasiswa KKN-T Bahari 2026 ke Desa-Desa
Dari sisi teknis, General Manager PLN Ir Mochammad Soleh ST MT IPM mengungkapkan, proyek ini menghadirkan pendekatan baru dalam konversi kendaraan. Jika sebelumnya konversi dilakukan dari mesin berbahan bakar fosil ke hidrogen, kini pengembangan difokuskan pada konversi kendaraan listrik menjadi berbasis hidrogen.
“Biasanya kita mengonversi kendaraan berbasis internal combustion engine menjadi hidrogen, namun saat ini kita mengonversi kendaraan listrik (electric vehicle) menjadi kendaraan berbasis hidrogen,” ujarnya.
Sumber: prasetya.ub.ac.id




