1 tahun disway

Dejavu, Fenomena 'Pernah Mengalami' yang Ternyata Tipuan Otak, Waspada jika Sangat Sering Terjadi!

Dejavu, Fenomena 'Pernah Mengalami' yang Ternyata Tipuan Otak, Waspada jika Sangat Sering Terjadi!

--

DISWAY,DISWAY MALANG.ID- Pernah merasa seolah-olah sudah pernah berada di suatu tempat, mendengar percakapan yang sama, atau menjalani momen yang persis seperti sekarang padahal Anda yakin itu pengalaman pertama? Itulah yang disebut deja vu atau biasa ditulis dejavu.

Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “pernah melihat”. Secara psikologis, dejavu adalah sensasi kuat bahwa situasi yang sedang dialami terasa sangat familiar, meskipun secara logika hal itu baru kali pertama terjadi. Fenomena ini umum dialami banyak orang, terutama pada rentang usia 15 hingga 25 tahun.

BACA JUGA:9 Dampak Gula Berlebih mulai Jerawat hingga Penuaan Dini! 9 Tips Membatasi Konsumsi Gula

Fenomena Umum yang Sering Terjadi

Para ahli menyebut bahwa hampir setiap orang pernah mengalami dejavu setidaknya beberapa kali dalam setahun. Sensasinya biasanya berlangsung singkat hanya beberapa detik namun cukup kuat untuk membuat seseorang terdiam dan bertanya-tanya.

Meski terasa misterius, para peneliti sepakat bahwa dejavu bukanlah pertanda kemampuan meramal masa depan atau pengalaman supranatural. Sebaliknya, ini merupakan bagian dari cara kerja otak yang unik dan kompleks.

Mengapa Dejavu Terjadi? Ini Penjelasan Ilmiahnya. Beberapa teori ilmiah mencoba menjelaskan penyebab fenomena ini:

BACA JUGA:Simak! 9 Tips Jalani Puasa Tanpa Maag Kambuh agar Tetap Nyaman dan Lancar selama Ramadan.

1. Split Perception (Persepsi Terbelah)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edward Bradford Titchener. Ia menjelaskan bahwa déjà vu terjadi ketika seseorang melihat suatu situasi secara sekilas tanpa perhatian penuh. Saat perhatian kembali fokus, otak memproses ulang informasi tersebut sehingga terasa seperti pengalaman yang sudah pernah terjadi.

2. Memory Recall (Pemicu Ingatan Samar)

Penjelasan ini banyak dikaitkan dengan Sigmund Freud. Freud berpendapat bahwa déjà vu berkaitan dengan ingatan atau pengalaman masa lalu yang tertekan (repressed memory). Ketika suatu situasi menyerupai pengalaman lama yang terlupakan, muncul sensasi familiar meskipun sumbernya tidak disadari.

BACA JUGA:Deretan Manfaat Pure Matcha untuk Kesehatan: Detok Alami, Baik untuk Jantung dan Hati

Selain Freud, peneliti memori modern seperti Alan S. Brown juga menjelaskan bahwa kemiripan situasi dengan pengalaman sebelumnya dapat memicu rasa familiar tanpa ingatan spesifik.

Jenis-Jenis Fenomena Serupa

  1. Selain déjà vu (pernah melihat), terdapat fenomena lain yang masih berkaitan, yaitu:
  2. Deja senti: sensasi “pernah merasakan”.
  3. Deja vecu: perasaan “pernah benar-benar menjalani” suatu peristiwa secara detail.

Ketiganya sama-sama berkaitan dengan persepsi dan memori, namun memiliki nuansa pengalaman yang berbeda.

BACA JUGA:WHO Konfirmasi Temuan Virus Nipah di India, Belum Ada Antivirusnya, Indonesia Siaga

Apakah Deja Vu Berbahaya?

Secara umum, dejavu adalah kondisi normal dan tidak berbahaya. Namun, ada situasi tertentu yang perlu diwaspadai.Jika dejavu terjadi sangat sering misalnya beberapa kali dalam sebulan dan disertai gejala seperti: pusing hebat, rasa takut berlebihan, kebingungan, kejang, atau gangguan kesadaran, maka kondisi ini bisa menjadi indikasi masalah medis tertentu.

Deretan gangguan yang dikaitkan dengan dejavu berulang yaitu:

  1. Epilepsi lobus temporal
  2. Gangguan kejang
  3. Migrain
  4. Depersonalisasi dan derealisasi
  5. Gangguan memori seperti demensia

Tipuan Otak yang Wajar

Pada akhirnya, dejavu merupakan bagian dari mekanisme otak dalam memproses pengalaman dan ingatan. Fenomena ini menunjukkan betapa kompleks dan menakjubkannya cara kerja memori manusia.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Kering, Ini Alasan Mengapa Rambut Bercabang dan Cara Mengatasinya

Selama terjadi sesekali dan tanpa gejala tambahan yang mengkhawatirkan, dejavu bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Ia hanyalah “tipuan kecil” dari otak misterius, singkat, dan sepenuhnya manusiawi.

Karena itu, jika suatu hari Anda kembali merasakan momen yang seolah pernah terjadi sebelumnya, tak perlu panik. Bisa jadi, itu hanya cara otak Anda memastikan bahwa ia sedang bekerja dengan sangat aktif.

Sumber: siloamhospital.com