1 tahun disway

UB Luncurkan Inovasi Jamu Herbal dan Parfum Berbasis Riset pada Dies Natalis ke-63

UB Luncurkan Inovasi Jamu Herbal dan Parfum Berbasis Riset pada Dies Natalis ke-63

Inovasi jamu BEATRIXLIM, MAGHERB, dan parfum Majamatara menegaskan komitmen UB dalam riset terapan yang berdampak bagi masyarakat.--Humas UB

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Universitas Brawijaya  meluncurkan inovasi strategis berbasis sains berupa produk jamu herbal dan parfum hasil riset multidisipliner. Peluncuran dilakukan di forum Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) untuk di Gedung Samantha Krida, Senin (5/1/2025).

Peluncuran inovasi ini diinisiasi oleh Direktorat Inovasi dan Pengembangan bersama Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka. Tiga produk unggulan diperkenalkan kepada publik, yakni dua formulasi jamu herbal berbasis kajian ilmiah, BEATRIXLIM dan MAGHERB. serta parfum Majamatara yang dikembangkan melalui pendekatan riset lintas disiplin. Ketiganya mencerminkan upaya UB menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Ketua Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB Prof Moch Sasmito Djati menegaskan, Dies Natalis ke-63 menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kesiapan riset UB memasuki tahap pemanfaatan yang lebih luas. Menurutnya, jamu yang dikembangkan bukan sekadar produk tradisional, namun hasil riset panjang yang melalui proses standarisasi, validasi, dan pengujian ilmiah secara komprehensif.

BACA JUGA:Ramu Space Malang Hadirkan Sensasi Kopi Jamu, Perpaduan Rempah Nusantara dan Gaya Minum Gen Z

Ia menjelaskan, selama ini produk herbal kerap dipandang sulit dijelaskan secara ilmiah karena mekanisme kerjanya yang kompleks dan melibatkan banyak senyawa aktif.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan telah membuka ruang baru dalam memahami kerja herbal secara lebih presisi. Melalui pendekatan riset in vitro, in vivo, dan in silico yang dikombinasikan dengan teknologi bioinformatika, senyawa bioaktif dalam tanaman kini dapat dipetakan mulai target biologis hingga jalur metabolisme yang terlibat.

BEATRIXLIM dan MAGHERB menjadi contoh konkret bagaimana kekayaan biodiversitas Indonesia dapat diolah menjadi produk kesehatan modern berbasis sains. Keduanya dirancang untuk menjawab kebutuhan kesehatan spesifik masyarakat, dengan pendekatan ilmiah yang menjamin keamanan dan efektivitas.

Sekretaris Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB Dinia Rizqi Dwijayanti menambahkan setiap produk yang diluncurkan telah melewati tahapan riset yang ketat dan terukur. Proses tersebut mencakup seleksi bahan baku, metode ekstraksi, penetapan parameter mutu, hingga standarisasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ia menegaskan, hilirisasi riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan harus mampu menjangkau masyarakat luas. Oleh karena itu, UB menjalin kolaborasi dengan dunia industri, dalam hal ini PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk di Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai standar industri dan regulasi yang berlaku.

BACA JUGA:Tren Minum Jamu ala Gen Z 'Nge-Hits' di TikTok, Layak Kamu Coba 9 Jamu Tradisional dan Manfaatnya

Menurut Dinia, BEATRIXLIM diformulasikan untuk membantu mendukung kondisi tubuh yang lemah. Sementara MAGHERB dikembangkan sebagai pendamping dalam membantu meringankan gangguan lambung. Keduanya menjadi wujud nyata peran kampus dalam menghadirkan inovasi kesehatan yang aplikatif dan relevan.


Universitas Brawijaya meluncurkan inovasi jamu herbal dan parfum hasil riset multidisipliner dalam rangka Dies Natalis ke-63 sebagai wujud hilirisasi sains--Humas UB

Selain jamu herbal, perhatian publik juga tertuju pada peluncuran parfum Majamatara. Produk ini merupakan hasil riset interdisipliner yang mengintegrasikan ilmu kimia, teknologi formulasi, dan narasi budaya. Majamatara tidak hanya dirancang sebagai produk wewangian, tetapi juga sebagai medium ekspresi identitas dan nilai budaya yang dikemas secara modern dan presisi.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menegaskan bahwa peluncuran produk inovatif tersebut mencerminkan filosofi keilmuan UB yang berpijak pada kebermanfaatan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak berhenti pada ranah konseptual, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Sumber: humas ub

Berita Terkait