5 April, Hari Hati Nurani Internasional: Mari Gunakan Kembali dan Dengar Suara Hatimu!

5 April, Hari Hati Nurani Internasional: Mari Gunakan Kembali dan Dengar Suara Hatimu!

World Conscience Day-pinterest-

MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Tanggal 5 April bukan hari biasa. Ini adalah hari yang bisa jadi pengingat bahwa dalam dunia yang bising oleh ambisi, hati nurani tetap harus menjadi kompas hidup.

Hari Hati Nurani Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum PBB sejak 2019. Tujuannya sederhana tapi mendalam: mengajak semua orang untuk kembali menimbang segala keputusan dengan hati, bukan hanya logika atau kepentingan.

Karena di balik kemajuan teknologi dan kecanggihan dunia, masih ada ruang hening di dada tiap manusia—itulah hati nurani.

Berikut sembilan hal yang bisa kita refleksikan pada Hari Hati Nurani Internasional ini.

1. Apa itu hati nurani?

Hati nurani bukan sekadar bisikan lembut yang muncul saat kita salah. Ia adalah bagian terdalam dari kesadaran moral manusia—penentu batas antara benar dan salah. Dalam definisi PBB, hati nurani adalah fondasi dari rasa tanggung jawab universal. Tanpa hati nurani, manusia kehilangan arah, bahkan ketika mereka tahu jalan.

PBB lewat resolusinya mendorong dunia untuk menumbuhkan budaya damai lewat cinta dan nurani. Bukan hanya pada tanggal 5 April, tapi sebagai prinsip hidup sehari-hari. Karena nurani sejatinya bukan alat sesaat, tapi arah tetap dalam labirin kehidupan.

2. Mengapa hati nurani penting di zaman sekarang?

Di era disrupsi dan keterbukaan informasi, manusia lebih mudah mengakses segalanya—termasuk kebencian. Konflik, polarisasi, dan ego kolektif sering kali menenggelamkan suara hati. Kita terbiasa cepat bereaksi, jarang berefleksi.

Hari Hati Nurani Internasional jadi kesempatan untuk berhenti sejenak, bertanya: "Apakah keputusan saya hari ini selaras dengan nilai yang saya percaya?" Di tengah tekanan sosial dan ekonomi, memilih jalan yang baik kadang tidak populer—tapi hati nurani selalu tahu mana yang benar.

3. Hubungan hati nurani dan perdamaian

Tak ada perdamaian sejati tanpa kesadaran dari tiap individu. Perdamaian bukan sekadar perjanjian antar negara, tapi juga keputusan personal untuk tidak membalas luka dengan luka. Di titik ini, hati nurani bekerja sebagai pelumas relasi sosial.

Seperti kata Sekjen PBB Antonio Guterres, budaya damai dimulai dari individu yang memilih empati di tengah provokasi, memilih berdialog alih-alih menyerang. Hati nurani adalah akar dari keputusan semacam itu—ia tidak keras, tapi berani.

4. Hati nurani dan keberanian memilih yang benar

Sumber: welcome to the united nations