2 April Hari Buku Anak Internasional: Hans Christian Andersen dan Karyanya yang Penuh Makna Sosial!

-Wikipedia-
MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Setiap 2 April, dunia memperingati hari lahir Hans Christian Andersen, seorang penulis yang telah memberikan dunia dengan dongeng-dongeng ikonik yang menghidupkan imajinasi anak-anak, serta memberi pelajaran hidup yang mendalam.
Hari kelahirannya juga menginspirasi dibuatnya Hari Buku Anak Internasional (HBAI) yang dirayakan 2 April Pula.
Ketika kita menggali lebih dalam ke dalam karya-karyanya, ada satu hal yang sering terlewat: di balik keindahan dongengnya, terdapat kritik sosial yang tajam, sering kali berbicara tentang ketidakadilan, keserakahan, hingga penindasan.
Mari kita kupas lebih jauh karya-karya Hans Christian Andersen yang telah menginspirasi literasi global, serta bagaimana kisah-kisahnya tidak hanya menghibur, tetapi juga mengkritik dan menggugah kesadaran sosial, relevan dengan kondisi zaman saat ini!
1. The Emperor's New Clothes: Sindiran untuk Orang yang Sok Pintar
Dalam The Emperor's New Clothes, seorang kaisar yang sangat sombong terjebak oleh dua penjahit gadungan yang mengaku bisa membuat pakaian luar biasa, yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang pintar. Namun, pakaian itu sebenarnya tidak ada sama sekali—semuanya hanyalah tipuan. Tetapi, karena takut dianggap bodoh, semua orang di istana, termasuk kaisar, berpura-pura melihat pakaian tersebut. Situasi ini baru terungkap ketika seorang anak kecil berteriak bahwa kaisar sebenarnya telanjang.
Seperti halnya dengan tren yang viral di media sosial—banyak orang berusaha untuk mengikuti arus meskipun tahu hal tersebut tidak benar atau tidak berguna, hanya untuk terlihat "smart" atau keren (FOMO, Fear of Missing Out).
2. The Little Match Girl: Potret Kesenjangan Sosial
Cerita The Little Match Girl mengisahkan seorang gadis kecil yang menjual korek api di malam Natal yang beku, berharap bisa membeli sedikit makanan dan kehangatan. Namun, tak seorang pun peduli padanya, dan dia akhirnya mati kedinginan di pinggir jalan. Dongeng ini memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kesenjangan sosial, di mana orang-orang yang berada di posisi atas tidak peduli dengan penderitaan mereka yang berada di bawah.
Andersen menulis cerita ini untuk menyentil kesadaran kita akan ketidakadilan sosial. Ada banyak anak-anak di dunia ini yang tidak memiliki kemewahan yang kita nikmati, bahkan untuk kebutuhan dasar mereka.
3. The Red Shoes: Konsumerisme yang Tidak Ada Habisnya
The Red Shoes menceritakan seorang gadis kecil yang membeli sepatu merah yang sangat indah, yang membuatnya begitu tergila-gila hingga tak bisa berhenti memakainya. Namun, sepatu tersebut mulai mengendalikan hidupnya, dan pada akhirnya, ia tidak bisa berhenti menari, bahkan hingga akhirnya ia jatuh ke dalam kehancuran.
Cerita ini bisa dibaca sebagai kritik terhadap konsumerisme yang melanda masyarakat, di mana barang-barang tertentu, seperti mode atau tren, dapat menguasai hidup seseorang, menjadikannya terobsesi untuk memiliki lebih banyak, bahkan sampai mengorbankan diri sendiri.
4. The Ugly Duckling: Standar Kecantikan yang Kejam
The Ugly Duckling menceritakan seekor anak itik yang sangat berbeda dari teman-temannya dan dipandang rendah karena penampilannya. Ia selalu merasa terasingkan dan dihina, sampai akhirnya ia tumbuh menjadi seekor angsa yang indah. Dongeng ini menyentil kita tentang standar kecantikan yang sangat sempit dan kejam yang ada di masyarakat, di mana hanya penampilan luar yang sering dianggap sebagai tolok ukur nilai seseorang.
Andersen sudah lama mengingatkan kita bahwa kecantikan sejati tidak selalu terlihat dari luar, dan bahwa seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik dan lebih indah seiring berjalannya waktu, meskipun awalnya mereka dianggap "buruk rupa." Cerita ini mengajak kita untuk lebih menerima diri sendiri dan menghargai orang lain tanpa memandang penampilan fisik mereka.
5. The Little Mermaid: Perempuan dan Tekanan Sosial
The Little Mermaid dalam versi asli Andersen sangat berbeda dengan versi Disney yang kita kenal. Dalam cerita ini, sang putri duyung mengorbankan suaranya untuk bisa mendapatkan cinta pangeran yang ia impikan. Namun, meskipun ia berkorban besar, pada akhirnya ia tidak bisa bersatu dengan pangeran dan berubah menjadi buih laut. Cerita ini mengandung pesan yang sangat kuat tentang bagaimana perempuan sering kali terpaksa mengorbankan diri demi mendapatkan cinta atau pengakuan sosial.
The Little Mermaid adalah peringatan tentang bagaimana masyarakat sering kali mengharapkan perempuan untuk mengorbankan diri mereka, baik secara fisik maupun emosional, untuk mencapai tujuan yang tidak selalu mereka pilih sendiri.
6. The Shadow: Ketika Popularitas Menghancurkan Identitas
Sumber: the new york times