Musim Hujan Tak Menentu, Peternak di Malang Perlu Waspada Risiko PMK
Memasuki awal 2026, saat musim hujan berlangsung tidak menentu, risiko kemunculan dan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi potong dan sapi perah di Malang Raya perlu diwaspadai karena rawan meningkat. -dok. FKH UB--
MALANG RAYA kembali berada pada kondisi yang perlu diwaspadai. Memasuki awal 2026, saat musim hujan berlangsung tidak menentu, risiko kemunculan dan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi potong dan sapi perah dinilai meningkat. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi peternak, dokter hewan, dan pemerintah daerah, mengingat Malang merupakan salah satu sentra peternakan penting di Jawa Timur.
PMK merupakan penyakit hewan menular strategis yang berdampak besar terhadap produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan. Pengalaman wabah sebelumnya menunjukkan bahwa kelengahan kecil, terutama pada kondisi lingkungan yang mendukung virus, dapat berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan.
Lantai yang basah, sirkulasi udara kurang optimal, dan peralatan peternakan yang sulit dikeringkan menciptakan kondisi ideal bagi virus PMK untuk bertahan lebih lama di lingkungan. -dok. FKH UB--
Kondisi cuaca dalam beberapa bulan terakhir ditandai dengan hujan yang datang tiba-tiba, kelembapan tinggi, serta fluktuasi suhu harian. Situasi ini berdampak langsung pada lingkungan kandang. Lantai yang basah, sirkulasi udara kurang optimal, dan peralatan peternakan yang sulit dikeringkan menciptakan kondisi ideal bagi virus PMK untuk bertahan lebih lama di lingkungan.
Wilayah dataran tinggi di Kabupaten Malang, seperti Pujon, Ngantang, dan Kasembon, yang dikenal sebagai sentra sapi perah, memiliki kepadatan ternak relatif tinggi. Pada musim hujan, kondisi tersebut meningkatkan potensi penularan penyakit, terutama jika biosekuriti kandang tidak diterapkan secara konsisten.
drh. Yuanara Augusta Rahmat Adikara, M.Si., penulis -dok. pribadi--
PMK tidak selalu muncul dengan gejala yang mudah dikenali. Pada beberapa kasus, tanda awal yang muncul justru bersifat ringan, seperti penurunan nafsu makan, produksi susu menurun drastis, pincang ringan, atau air liur berlebihan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi luka serius pada mulut dan kuku, infeksi sekunder, bahkan kematian, terutama pada pedet.
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan lebih tinggi dari peternak. Deteksi dini dan pelaporan cepat kepada petugas kesehatan hewan menjadi langkah krusial untuk mencegah penyebaran penyakit di tingkat kandang maupun wilayah.
Salah satu faktor yang masih menjadi tantangan dalam pengendalian PMK adalah perdagangan dan lalu lintas ternak. Pembelian ternak dari pasar hewan tanpa dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) masih ditemukan di lapangan. Praktik ini menjadi celah masuknya PMK, terutama ketika virus dapat terbawa oleh ternak tanpa gejala klinis yang jelas.
Pada musim hujan, risiko ini semakin besar karena virus mampu bertahan lebih lama pada tubuh ternak, peralatan angkut, maupun alas kendaraan. Satu ekor ternak yang terinfeksi berpotensi menjadi sumber penularan bagi seluruh populasi dalam satu kandang.
Vaksinasi PMK tetap menjadi salah satu pilar penting dalam upaya pengendalian penyakit. Namun, vaksin tidak dapat bekerja optimal tanpa didukung manajemen kandang dan biosekuriti yang baik. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa peternakan yang disiplin menerapkan biosekuriti cenderung lebih mampu menekan risiko PMK, meskipun berada di wilayah rawan.
Ilustrasi petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menyiapkan vaksin PMK di Kota Malang. Vaksinasi tidak dapat bekerja optimal tanpa didukung manajemen kandang dan biosekuriti yang baik. –dok. Humas Pemkot Malang --
Langkah-langkah sederhana seperti menjaga kandang tetap kering, membatasi lalu lintas orang dan kendaraan, menyediakan alas kaki khusus kandang, melakukan disinfeksi rutin, serta mengarantina ternak baru sebelum dicampur dengan ternak lama menjadi sangat penting, khususnya pada musim hujan.
Pengendalian PMK tidak dapat dilakukan oleh peternak secara mandiri. Dokter hewan memiliki peran penting dalam deteksi dini, penanganan kasus, edukasi peternak, serta penguatan sistem kewaspadaan penyakit hewan. Upaya ini sejalan dengan pendekatan One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) turut berperan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pengendalian penyakit hewan strategis, termasuk PMK. Sinergi antara akademisi, praktisi, pemerintah daerah, dan peternak menjadi kunci untuk menekan risiko penyakit di lapangan.
FKH UB melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di KPSP Sidodadi Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (21/6/2025). Kegiatan ini mencakup penyerahan bantuan suplemen ternak serta edukasi kesehatan hewan kepada para peternak. -dok. FKH UB--
Musim hujan yang tidak menentu seharusnya menjadi alarm kewaspadaan bagi seluruh pelaku peternakan di Malang Raya. PMK bukan ancaman baru, namun tetap berpotensi menimbulkan kerugian besar jika diabaikan. Dengan kewaspadaan dini, kepatuhan terhadap biosekuriti, dukungan vaksinasi, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan hewan, risiko PMK dapat ditekan.
Upaya ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan peternak.
Kewaspadaan hari ini adalah investasi untuk keberlanjutan peternakan pada masa depan.
* Penulis adalah dosen di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya.
Sumber:
