Meluncur Platform Salam.life Tawarkan Ruang Digital Berbasis Nilai Muslim
Salam.life menjadi platform media sosial dengan konsep syariah-Ilustrasi---
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Meluncur Salam.life, jejaring sosial muslim baru-baru ini, yang memunculkan pertanyaan. Apakah umat Muslim memang butuh media sosial khusus di tengah dominasi Facebook dan Instagram yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan ini bukan baru. Sejak dua dekade lalu, gagasan membangun platform digital berbasis identitas dan nilai keagamaan sudah berulang-ulang dicoba. Namun, belum ada satu pun yang benar-benar tumbuh menjadi platform global yang bertahan lama.
BACA JUGA:Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji Eks Menag Yaqut, KPK Periksa Ketua PBNU
Meski begitu, konteks hari ini tidak sepenuhnya sama dengan masa lalu. Secara demografis, jumlah umat Muslim dunia diperkirakan mendekati dua miliar jiwa atau sekitar seperempat populasi global. Mayoritas hidup di kawasan Asia-Pasifik, dari Turki hingga Asia Tenggara.
“Indonesia sendiri menyumbang sekitar 240 juta Muslim, terbesar di dunia,” kata Head of Communication Salam.life Yusuf Karim.
Fakta penting lainnya, ratusan juta Muslim hidup sebagai minoritas di negara non-Muslim. Pengalaman mereka beragama, bersosial, dan berinteraksi berlangsung dalam konteks yang sangat beragam.
BACA JUGA:KPK Gandeng BPK Periksa 400 Biro Haji, Imbau Segera Kembalikan Duit dari Kasus Kuota Haji
Mulai bahasa, budaya, hingga norma publik yang berbeda. “Artinya, audiens Muslim global itu besar, majemuk, dan multibahasa,” kata Yusuf.
Di sinilah muncul ketegangan dengan media sosial arus utama. Facebook dan Instagram dirancang sebagai platform universal. Kekuatan mereka terletak pada keterbukaan itu. Namun bagi komunitas berbasis nilai, universalisme sering menciptakan ruang yang terasa tidak sepenuhnya pas.
Interaksi akhirnya dalam grup tertutup, lingkar pertemanan sempit, atau mengikuti akun-akun tertentu. “Bukan dalam satu ruang bersama yang terkelola,” ujar Yusuf.
Algoritma platform besar juga mendorong konten yang paling menarik perhatian, bukan yang paling sesuai nilai. “Ini bukan soal benar atau salah, melainkan konsekuensi desain platform yang melayani norma global yang sangat beragam,” imbuhnya.
Salam.life mencoba menjawab celah itu. Dari sisi bentuk, ia tidak menawarkan sesuatu yang asing: linimasa, unggahan, komentar—semuanya familiar. Perbedaannya pada pengaturan dasarnya. Konteks Muslim dijadikan mode utama, bukan sekadar tambahan.
Beberapa fitur yang dikedepankan antara lain penerjemahan otomatis lebih dari 30 bahasa, pemisahan linimasa Ikhwan dan Akhwat, penyaring konten berbasis halal-haram, serta ruang khusus untuk proyek amal lembaga Islam.
Sumber: harian.disway.id
