1 tahun disway

Lagi Soal AI, Jadi Tema Hari Kebebasan Pers, Perannya Masih Jadi Perdebatan: Efisiensi atau Bencana?

Lagi Soal AI, Jadi Tema Hari Kebebasan Pers, Perannya Masih Jadi Perdebatan: Efisiensi atau Bencana?

Hari Kebebasan Pers - AI dan konteksnya dengan kebebasan pers-pinterest - yeasin khan shanto-

MALANG, DISWAYMALANG.ID --  Hari kebebasan pers tahun ini mengangkat tema;  Reporting in the Brave New World – The Impact of Artificial Intelligence on Press Freedom and the Media.

Di tengah ledakan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI) telah masuk ke ruang redaksi lebih cepat dari yang dibayangkan. Mesin AI kini bisa membantu menyarikan data, menyesuaikan headline dengan SEO. Di satu sisi, ini efisiensi. Di sisi lain, ini potensi bencana—kalau tak digunakan dengan cermat dan hati-hati.

Tim jurnalis bukan hanya dituntut bisa menulis, tetapi juga mengerti batas dan logika dari sistem kecerdasan buatan.

Maka itu, tema ini harus disambut dengan pelatihan soal AI yang tidak bisa ditunda, dan integritas jurnalistik harus tetap menjadi pondasi utama.

Agar AI lebih banyak manfaat daripada mudharat atau masalah negatifnya, berikut sembilan hal yang seharusnya tetap diperhatikan dalam penggunaan AI.

1. AI Bukan Pengganti Wartawan, Tapi Alat Bantu

Banyak orang berpikir AI akan menggantikan profesi jurnalis. Ini keliru. AI tidak memahami nuansa. Ia tidak tahu mengapa sebuah kejadian penting secara sosial atau politis. Ia hanya merangkai kata dari data yang ia pelajari. Maka tugas utama redaksi adalah menyadari bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti kerja editorial manusia.

Dalam pelatihan, penting untuk menanamkan bahwa AI bisa membantu meriset tren. Tapi untuk memutuskan apakah berita layak tayang, apakah sudut pandangnya etis, atau apakah judulnya tidak menyesatkan, semua itu tetap tanggung jawab manusia. Keputusan redaksional tidak boleh diserahkan ke mesin.

2. Ajarkan Jurnalis Mengenali Output AI yang Bias

AI dibangun dari data. Jika datanya bias, hasilnya juga bias. Ini bisa menjadi masalah.

Maka seorang jurnalis harus diberi pelatihan untuk mengenali ketika AI mulai menunjukkan kecenderungan berpihak. Termasuk saat AI terlalu sensasional, tidak peka budaya, atau mengabaikan konteks sosial. Jurnalis harus bisa menyaring dan mengevaluasi ulang hasil kerja AI sebelum naik cetak atau tayang di media daring.

3. Perkuat Skill Jurnalis dalam Verifikasi dan Kurasi Data

Di era AI, kemampuan menulis bukan satu-satunya hal penting. Kemampuan memilih, memilah, dan memverifikasi data justru semakin krusial. AI bisa memberikan data, tapi hanya jurnalis manusia yang bisa menilai apakah data itu relevan, valid, dan tidak dipotong konteksnya.

Inilah kenapa pelatihan literasi data dan logika informasi penting untuk dilakukan secara berkala di newsroom.

Sumber: quora