DPRD Malang Semprot PJT I, SPAM Bango Sering Gangguan Sejak Beroperasi
Rapat Evaluasi WTP Bango--
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID–Komisi B DPRD Kota Malang menyoroti keras operasional SPAM Bango yang dinilai masih sering mengalami gangguan sejak mulai beroperasi pada Agustus 2025. Gangguan tersebut memicu banyak keluhan masyarakat karena berdampak pada distribusi air bersih di sejumlah wilayah Kota Malang.
Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji mengatakan, sejak dioperasikan dengan kapasitas awal 200 liter per detik, sistem penyediaan air minum tersebut hampir setiap bulan mengalami kendala operasional.
“Sejak 1 Agustus 2025 SPAM Bango berjalan dengan kapasitas awal 200 liter per detik. Tetapi hampir setiap bulan ada gangguan. Aduan dari masyarakat dan pengelola perumahan juga cukup banyak,” ujar Bayu dalam rapat evaluasi, Rabu (11/3).
Saat ini, SPAM Bango tercatat melayani sekitar 20.758 sambungan rumah di Kota Malang. Wilayah layanan meliputi kawasan Muharto Timur, Jalan KH Malik, Mayjen Sungkono hingga area GOR Ken Arok.
Air baku sistem ini diambil dari Sungai Bango, kemudian diolah di instalasi pengolahan air sebelum disalurkan melalui jaringan milik Perumda Tugu Tirta Kota Malang5jhhh.
Namun dalam beberapa kejadian terakhir, operasional instalasi sempat terganggu akibat sedimentasi yang menutup saluran intake atau jalur masuk air sungai ke instalasi pengolahan.
BACA JUGA:Kembali ke Hawkins! Stranger Things: Tales from ’85 Siap Ungkap Misteri Baru
“Gangguan terakhir terjadi karena hujan deras yang membawa sedimen hingga menutup intake pompa. Kalau dipaksakan beroperasi tentu berisiko merusak peralatan,” jelas Bayu.
Selain gangguan teknis, DPRD juga menyoroti capaian produksi air yang dinilai belum selalu memenuhi target dalam perjanjian kerja sama antara Perum Jasa Tirta I dan Perumda Tugu Tirta Kota Malang.
Dalam kontrak kerja sama, target transaksi air baku ditetapkan minimal 14.755 meter kubik per hari dengan tarif Rp1.600 per meter kubik.
Data evaluasi menunjukkan realisasi produksi air pada beberapa bulan terakhir masih berada di bawah target. Pada Agustus 2025, realisasi produksi mencapai 454.081 meter kubik dari target 458.025 meter kubik. Sementara pada September 2025, realisasi hanya 408.586 meter kubik dari target 443.250 meter kubik.
Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan transaksi air baku yang memunculkan pengurangan pembayaran hingga puluhan juta rupiah.
Sumber:
