Sedang Terjebak Quarter Life Crisis? Ini 9 Hal Yang Harus Direnungkan Pelan Pelan!
Ilustrasi Mengenai Quarter Life Crisis Dalam Usia 20 - 30an-pinterest-
MALANG, DISWAYMALANG.ID -- “Kerja sudah, kuliah sudah, tapi kenapa masih merasa hampa?”
Pertanyaan ini sering muncul di usia pertengahan 20-an. Survei yang dilakukan Linkedin, sebanyak 75 persen orang dalam rentang usia 20-30 tahun mengalami quarter life crisis.
Fase yang dikenal dengan istilah quarter life crisis ini bermakna di mana arah hidup terasa kabur, pencapaian terasa minim, dan standar sosial mulai menghantui: karier mandek, pasangan belum ada, tabungan menipis, dan cicilan belum punya.
Di tengah badai ini, bukan solusi instan yang dicari. Melainkan cara untuk berpikir lebih jernih, menata ulang langkah, dan pelan-pelan menerima bahwa proses menjadi dewasa memang tak selalu gemerlap.
Berikut sembilan hal yang patut direnungkan secara perlahan.
1. Hidup bukan lomba cepat, melainkan perjalanan panjang
Banyak yang merasa tertinggal saat melihat rekan seangkatan melesat duluan. Padahal kehidupan bukan garis finish yang harus dicapai secepat mungkin. Setiap orang memulai dari titik yang berbeda, membawa beban yang tak sama, dan punya tujuan yang tidak seragam.
Alih-alih berkompetisi dengan waktu, lebih bijak untuk memahami bahwa perjalanan panjang justru memberi ruang untuk tumbuh. Ketika semua langkah dibandingkan dengan orang lain, maka rasa gagal akan muncul terus-menerus. Padahal, waktu bukan musuh, tapi teman yang setia menunggu selama masih melangkah.
2. Jalur karier bisa berubah, dan itu hal yang normal
Banyak orang memulai karier bukan dari apa yang dicita-citakan, melainkan dari apa yang tersedia. Bekerja di bidang yang tak sesuai jurusan atau minat sering dianggap kesalahan, padahal itu justru bagian dari proses pencarian yang wajar.
Mencoba, gagal, lalu berganti haluan bukan pertanda lemah, melainkan bukti adaptasi. Dunia kerja berubah cepat, dan keahlian bisa berkembang di luar latar belakang pendidikan. Ketepatan langkah tidak selalu langsung datang di awal. Kadang, jalur yang awalnya tampak salah justru mengantarkan ke tempat yang lebih tepat.
3. Target finansial tak wajib dicapai di usia muda
Muncul tekanan sosial untuk memiliki rumah, kendaraan, atau aset sebelum usia 30. Ekspektasi ini sering membuat banyak individu merasa tertinggal. Padahal stabilitas finansial bukan soal umur, melainkan kesiapan dan perencanaan yang matang.
Lebih penting untuk membangun fondasi keuangan yang sehat, daripada terburu-buru demi status sosial. Membeli rumah dengan cicilan besar tanpa kesiapan bisa menjadi beban panjang. Setiap keputusan finansial layak dilandasi logika, bukan tuntutan lingkungan.
Sumber: linkedin
