Topeng Dongkrek Siap Meriahkan Festival Kembul Topeng #3 di Malang

Selasa 19-08-2025,18:38 WIB
Reporter : Abdul Halim
Editor : Abdul Halim

TUMPANG, DISWAYMALANG.ID – Festival budaya Kembul Topeng #3 akan digelar pada 26–31 Agustus 2025 di Padepokan Seni Mangun Dharmo, Tumpang, Kabupaten Malang. Perayaan yang bertepatan dengan HUT ke-36 padepokan tersebut menghadirkan puluhan komunitas topeng Nusantara dengan tema “Dulu, Kini, Nanti”.

Salah satu penampilan yang paling ditunggu adalah kesenian Topeng Dongkrek dari Caruban, Madiun. Dibawakan oleh Sanggar Condro Budoyo di bawah pimpinan Andri, kesenian ritual ini menambah khazanah tradisi topeng yang akan dipertontonkan di Malang.

“Topeng Dongkrek adalah gambaran drama kehidupan manusia: ada sifat baik, ada pula sifat jahat. Dari sana kita belajar kesabaran, ketenangan, dan kerja keras,” ujar Andri, Selasa (19/8).

Topeng Dongkrek lahir pada abad ke-19 saat Caruban dilanda pagebluk. Kala itu, Bupati Raden Ronggo Prawirodirjo III menginisiasi pertunjukan dengan kendang, keprak kayu, serta tarian penuh semangat sebagai doa kolektif menolak bala.

Nama Dongkrek berasal dari bunyi “dung” kendang dan “krek” kayu, yang dipercaya mampu mengusir roh jahat. Kini, Topeng Dongkrek berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang juga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Pertunjukan ini dimainkan dengan karakter topeng khas, seperti Buto (simbol kekuatan negatif), Putri (masyarakat yang terkena gangguan), hingga Panji dan ksatria (tokoh penyelamat). Iringan musik kendang, gong, dan jidor menghasilkan hentakan ritmis yang diyakini mengusir mara bahaya.

Kembul Topeng #3 tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga menghadirkan sarasehan budaya, workshop seni, pameran topeng, hingga lomba anak-anak. Sejumlah perguruan tinggi seni bergabung, di antaranya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, ISBI Denpasar, STKW Surabaya, UNESA, Universitas Negeri Malang, IKJ, hingga puluhan SMKI dan komunitas dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Ki Demang, tokoh budaya Malang sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, menegaskan pentingnya menghadirkan Topeng Dongkrek di Malang.

“Topeng Dongkrek meski tidak bersumber dari epos Panji atau Purwa, memiliki nilai sakral tinggi. Ia hadir sebagai topeng pengharapan, menepis mitos mistis topeng itu sendiri,” kata Ki Demang.

BACA JUGA:Bupati Malang Launching Pengiriman Perdana 3.000 Porsi Makanan Bergizi Gratis di Gondanglegi

Sementara itu, Winarto Ekram, pimpinan Malang Dance Indonesia sekaligus penggagas acara, menekankan bahwa Kembul Topeng adalah ruang perjumpaan budaya.

“Topeng bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Ini cara menjaga napas tradisi agar tetap hidup di tengah modernitas,” ujarnya.

Dengan tema “Dulu, Kini, Nanti”, Kembul Topeng #3 diharapkan menjadi momentum perenungan dan pewarisan budaya. Dari sakralitas Dongkrek Caruban hingga elegansi Topeng Malangan, festival ini menjadi ajang merajut identitas bangsa melalui kesenian topeng. (ab)

Tags :
Kategori :

Terkait