Beauty Privilege: Realita Kehidupan dan Pergeseran Definisi Cantik di Indonesia

Senin 04-08-2025,07:17 WIB
Reporter : Tazqia Aulia Zalzabillah
Editor : Tazqia Aulia Zalzabillah

Namun, kecantikan tidak melulu soal penampilan fisik. Aspek kepribadian juga memiliki porsi yang signifikan.

Sebanyak 14,6 persen responden merasa cantik ketika mereka percaya diri, 10,1 persen merasa cantik saat memiliki tubuh yang sehat dan bugar, dan 6,3 persen merasa cantik ketika sedang bahagia. Bahkan, ada juga yang mendefinisikan cantik sebagai kemampuan berpikir positif (2,8 persen).

BACA JUGA:Peringatan Hari Pekerja Perempuan Lajang di Amerika Serikat

Menuju Standar Kecantikan yang Lebih Inklusif: Bye-Bye Kulit Putih!

Salah satu temuan paling revolusioner dari survei ini adalah adanya pergeseran standar kecantikan dari kulit putih.

Data ZAP Clinic menunjukkan penurunan drastis dalam kurun waktu dua tahun. Pada tahun 2021, 13,6 persen responden masih menganggap kulit putih sebagai definisi kecantikan. Angka ini merosot tajam menjadi 7,3 persen pada tahun 2022, dan hanya 1,1 persen pada tahun 2023.

"Hanya dalam kurun waktu 2 tahun, wanita Indonesia tak lagi mendefinisikan kulit putih sebagai standar kecantikan," tulis ZAP dalam laporannya.

Ini adalah sinyal positif bahwa masyarakat Indonesia mulai merangkul keberagaman dan keindahan dalam berbagai warna kulit, menuju definisi kecantikan yang lebih inklusif dan otentik.

BACA JUGA:BNN Kabupaten Malang Bentuk 32 Agen Pemulihan Desa, Optimalkan Rehabilitasi Pecandu Narkoba

Dengan demikian, meskipun beauty privilege masih menjadi realitas yang nyata, pergeseran paradigma tentang apa itu cantik memberikan harapan bahwa suatu hari nanti, penghargaan dan peluang akan didasarkan pada kompetensi dan karakter, bukan semata-mata pada penampilan fisik.

Kategori :