Harlah ke-100, NU Teguhkan Komitmen Kawal RI Menuju Peradaban Mulia
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan peringatan 100 tahun masehi Nahdlatul Ulama menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen NU dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia.-Moh Purwadi---
JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Peringatan 100 tahun masehi Nahdlatul Ulama menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen NU dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia. Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dalam peringatan Harlah ke-100 tahun NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026) .
“Hari ini kita peringati sebagai NU yang satu. Sebagaimana disepakati PBNU dalam rapat gabungan pada Agustus 2025, peringatan Harlah NU kali ini mengusung tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia’,” ujar Gus Yahya, panggilan Yahya Cholil Staquf.
BACA JUGA:Longsor Bandung Barat, Ditemukan Lagi 5 Jasad, Total Menjadi 65 Tewas, 15 Korban Masih Dicari
Gus Yahya menjelaskan tema Harlah NU Ke-100 tersebut dipilih karena visi dan idealisme NU sejak awal berdirinya sejalan dan sebangun dengan visi Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut dia, prinsip dasar kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan, juga merupakan nilai yang dihidupi NU sejak awal.
BACA JUGA:Harlah 100 Tahun NU Batal Dihadiri Prabowo, PBNU: Agenda Presiden Berubah di Saat-Saat Terakhir
Selain itu, NU juga memegang teguh komitmen bangsa Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
“Semua itu merupakan rumusan visi dan idealisme NU yang telah ditetapkan sejak NU didirikan dan kemudian dimanifestasikan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Gus Yahya menegaskan NU tidak dapat dipisahkan dari Indonesia. Ia mengibaratkan NU sebagai pelita yang ingin menerangi sekitarnya, sementara Indonesia adalah tempat pelita itu berpijak.
BACA JUGA:Peringatan 1 Abad NU di Stadion Gajayana Diproyeksikan Dongkrak Ekonomi dan Kepadatan Kota Malang
“Apabila NU adalah misbah yang ingin menyinari sekitar, maka misykatnya adalah Indonesia. Tidak mungkin kita berpikir tentang NU tanpa sekaligus berpikir dan bertindak untuk Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan peringatan satu abad NU memiliki makna ganda. Dua tahun lalu, NU telah memperingati satu abad berdasarkan kalender Hijriah, sementara tahun ini peringatan 100 tahun dilakukan berdasarkan kalender Masehi.
Selama satu abad perjalanan sejarahnya, Gus Yahya menegaskan NU tidak pernah bergeser dari semangat dan idealismenya, yakni menjadikan NKRI sebagai kubu perjuangan dan markas besar untuk membangun peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia.
BACA JUGA:Wali Kota Batu Nurochman Hadiri Milad ke-102 MIMU Kota Batu
Sumber: disway.id
